Dulu pas masih SMU pengen cepet lulus,pengen cepet kerja biar bisa bantu ekonomi keluarga.
setelah lulus aku merantau dan bekerja di sebuah pabrik sepatu,Alhamdulillah bisa bantu ekonomi keluarga bisa nyekolahin adik",aku inget dulu,pertama kali gajian 300500,pada tahun 2000.
Alhamdulilah setiap tahunnya gaji bertambah,walaupun nilainya sama,karena gaji naik kebutuhanpun ikut naik harganya.
tahun 2003 aku menikah,selang setahun punya anak,makin aja bertambah tuh pengeluaran karena bayi yang di tinggal kerja,pasti di titipin pengasuh atau di tinggal ma nenek dan kakeknya,kebetulan anakku di titipin ke nenek dan kakeknya.biaya susu dan pempes.
karena suamiku juga karyawan kontrak,kalau kerja di bayar kalau off ya off juga gajinya.
Sedih rasanya ngejalanin Lika liku kehidupan,aku yang sudah sedewasa ini sangat sedih karena belum bisa nyeneng mamah,sampai mamah tiada😭 aku belum bisa ngasih yang terbaik...kalau lagi rindu mamah....suka nangis sendiri...
Padahal aku udh umur 46 tapi pengen pulang ke pelukan mamah sebagai anak kecil lagi😭...Alfatihah buat mamah....
semoga perempuan di dunia ini yang sedang berjuang buat kelurganya selalu semangat.
Dan yang masih punya ibu sayangilah dia,jangan sampai menyesal setelah tiada....
... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang juga pernah mengalami lika-liku hidup dalam perjuangan ekonomi keluarga, saya sangat terhubung dengan kisah "Pejuang Rupiah" ini. Saya pernah merantau jauh dari rumah, bekerja di pabrik dengan gaji yang tidak seberapa, demi membantu kebutuhan keluarga dan mengenyam pendidikan adik-adik saya. Momen gajian pertama tentu sangat membahagiakan sekaligus mengajarkan arti pengelolaan uang yang bijak. Seiring berjalannya waktu, walaupun gaji mengalami kenaikan nominal, kebutuhan hidup naik pula sehingga tetap menuntut pengelolaan keuangan yang hati-hati.
Ketika sudah berkeluarga, bertambahnya pengeluaran seperti biaya susu dan kebutuhan anak menjadi tantangan tersendiri, apalagi jika harus menitipkan anak pada pengasuh atau keluarga. Seringkali, rasanya berat melepas anak dan berjuang demi mereka sekaligus menjaga kestabilan finansial keluarga. Saya merasakan betul perasaan rindu dan haru saat mengingat orang tua, terutama ibu yang sangat berjasa dalam kehidupan kita.
Pengalaman ini menguatkan saya untuk terus semangat dalam mengatur pengeluaran, menabung meskipun sedikit demi sedikit, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga. Ada banyak komunitas dan sumber daya seperti "Product Creation Center" yang dapat membantu memberikan edukasi dan dukungan bagi pejuang rupiah yang ingin mengembangkan potensi dalam ekonomi kreatif atau usaha kecil.
Bagi para perempuan dan pejuang rupiah di luar sana, jangan pernah menyerah walau kondisi berat. Setiap usaha yang kita lakukan dengan niat baik dan kesungguhan pasti akan membawa hasil yang membanggakan bagi kita dan keluarga tercinta. Jangan lupa untuk selalu menghargai dan menyayangi orang tua selagi mereka masih ada, karena kasih sayang mereka adalah fondasi utama kekuatan kita dalam berjuang.