buruangndakbabulu
Jujur, dulu tiap dengar kata ladolado aku kira itu cuma nama makanan atau sambal, apalagi di kampung sering dengar orang bilang timang lado lado, panggulai baluik, yuk mari makan. Ternyata ladolado itu juga nama salah satu alat musik tradisional Minangkabau yang cukup unik, tapi sekarang makin jarang dibahas. Pertama kali aku benar-benar ngeh soal ladolado itu waktu ada acara seni di nagari. Ado kawan bagaluik di panggung, dia mainin alat musik yang bentuknya sederhana, tapi suaranya tajam dan ritmis. Katanya itu lah ladolado. Bentuknya mirip alat pukul kecil, biasanya dari kayu atau bambu, ada juga yang digabung dengan alat lain buat ngiringi nyanyian atau sajak. Pas digabung sama dendang dan sajak si upiak, suasananya langsung berasa "ENAKNYA, HMM NYAM NYAM" buat telinga, sama kaya makan gulai baluik panas-panas. Kalau ngomongin fungsi, ladolado ini biasanya dipakai buat ngiringi tarian tradisional atau pertunjukan randai. Di beberapa daerah, ladolado dipakai buat jaga ritme, semacam metronom tradisional. Pola pukulannya itu berulang, tapi bisa cepat atau lambat, tergantung jenis acara. Waktu ada pertunjukan di kampung, aku sempat perhatiin: pemain ladolado duduk di samping pemain gandang, saling pandang dan jaga kompak. Sekilas kelihatan gampang, tapi pas aku coba, pukulan aku berantakan, tempo lari ke mana-mana. Di situ aku baru sadar: keliatan simpel, tapi butuh rasa dan latihan. Dari ngobrol sama orang tua di kampung, ladolado dulu lebih sering muncul di acara-acara adat. Sekarang, banyak anak muda yang lebih kenal gitar, cajon, atau alat musik modern lain. Seandainya dari kecil kita sudah dikenalkan dan dikasih kesempatan belajar ladolado, mungkin sekarang alat musik ini nggak sejarang itu terdengar. Aku pribadi mulai tertarik lagi gara-gara lihat postingan teman yang upload video latihan alat musik tradisional, terus kepikiran, "Malu gak sih, orang luar negeri aja semangat belajar budaya kita, tapi kita sendiri cuek?" Kalau kamu penasaran pengen mulai mengenal ladolado, coba tanya ke sanggar seni di daerahmu atau cari komunitas musik tradisional. Biasanya mereka senang banget kalau ada anak muda yang mau belajar. Nggak harus langsung jago; cukup berani coba, dengar, dan menikmati prosesnya. Dari situ kita bisa ngerti bedanya ladolado dengan alat musik lain, baik dari bunyi, cara main, maupun perannya dalam kesenian Minang. Menurutku, mengenal ladolado itu semacam cara kecil buat bilang terima kasih ke leluhur yang sudah ciptakan dan merawat kesenian ini. Di tengah budaya makan yang meriah—timang lado lado, panggulai baluik, dan segala macam hidangan enak—ada juga "hidangan" buat telinga berupa suara alat musik tradisional. Tinggal kita mau atau nggak buat duduk sebentar, dengar, dan mungkin pelan-pelan ikut memainkannya.








































