Haloo temen temen Lemon8_ID perkenal dulu ya nama aku sinta ayunda
aku mau sedikit cerita waktu aku baru lulus sekolah SMA watak prilaku aku itu ekstropt banget sama orang² mudah kenal mudah bergaul,kemudian aku masuk ke sebuah tempat kerja di daerah aku,dari situ aku nemu temen yang bener bener 1 frekuensi banget sama aku gila nya,kocaknya,semua lah hampir sama,sampai aku tuh udah anggap dia kaya kaka sendiri🤗 dan 2 tahun kemudian di tempat kerja ku itu ada masalah dan tempat kerjaku harus tutup permanen dan singkat cerita aku harus pisah sama temen aku itu,dari situ aku sedih banget ;( karna nemuin sahabat yang ngerti banget sama keadaan kita itu susah banget,dan di tahun itu juga aku menikah dan harus nuruti apa kata suami aku dan akhirnya aku pergi ngerantau ikut suami aku 😊
singkat cerita aku berada di lingkungan baru,ekspetasiku bakal menyenangkan bakal punya banyak teman lagi,dan di luar ekspetasiku,ternyata yang aku bayangkan tidak terjadi, nyatanya aku malah banyak sakit ht nya,banyak gak di hargai nya,huhuhu,,, jadi dewasa itu ternyata begini ya,harus pandai dalam memilih sesuatu:)
dari situlah aku mulai ga percaya sama omongan orang lain,mulai jaga jarak sama orang lain,disitulah aku ngerasa aku itu butuh ketenangan🥲 sampai aku ketemu orang lain pun aku ga mauu🥲
dan sampai usia ku saat ini aku belum bisa 100% percaya sama orang yang baru dekat dengan aku🥲
soo makasih ya yang udah dengerin cerita aku sampai akhir🤗
... Baca selengkapnyaMengalami perubahan dari sosok yang sangat ekstrovert menjadi lebih introvert pada usia 22 tahun adalah perjalanan yang penuh makna dan pembelajaran bagi saya. Sebelum lulus SMA, saya sangat mudah bergaul dan cepat dekat dengan orang baru, namun saat memasuki dunia kerja dan pernikahan, perubahan besar terjadi.
Salah satu hal yang saya pelajari adalah pentingnya memilih teman dan lingkungan yang benar-benar mendukung. Saya pernah sangat dekat dengan seorang teman yang hampir seperti keluarga sendiri, namun kehilangan tempat kerja membuat saya harus menjauh dan berpisah dengannya. Hal ini sangat menyakitkan karena menemukan sahabat yang sefrekuensi itu tidak mudah, apalagi masuk di masa dewasa di mana kepercayaan terhadap orang lain mulai diuji.
Ketika saya harus mengikuti suami merantau ke lingkungan baru, ekspektasi saya untuk mendapatkan teman baru dan suasana menyenangkan tidak terpenuhi. Saya merasakan banyak sakit hati karena kurangnya penghargaan dan pengertian dari orang-orang di sekitar, yang membuat saya semakin menjaga jarak dan merasa perlu ketenangan.
Dari pengalaman ini, saya merasa dewasa bukan hanya soal pertambahan usia, tapi juga bagaimana kita belajar menjaga diri dan memilih orang yang benar-benar bisa dipercaya. Saya kini masih belum bisa 100% membuka hati untuk orang baru, karena pengalaman pahit dulu membuat saya lebih berhati-hati.
Bagi teman-teman yang sedang berjuang dengan perubahan sikap dan perasaan akibat pengalaman hidup, saya ingin mengatakan bahwa ini adalah bagian dari proses tumbuh. Jangan ragu untuk mengambil waktu sendiri untuk menyembuhkan luka dan mencari ketenangan. Percayalah bahwa setiap pengalaman, baik maupun buruk, pasti membawa pelajaran berharga yang membantu kita menjadi pribadi lebih kuat dan bijak.