Memilih Diam Dari Pada Banyak Bicara
Aku memilih diam karena aku sadar
apa pun yang ku ucapkan itu tidak akan benar dimata mereka
Aku sadar sebaik apa pun aku tetap salah
gak ada baiknya
Belajar jadi seseorang yang tega, tidak perduli dan masa bodo
tapi aku tidak bisa
rasanya sedih dan menyesal rasanya
karena aku pernah ngerasain diposisi itu
Apa lagi setelah tau mereka dibelakang ku
menjelek" kan ku
sedih rasanya tapi cukup tau saja
aku tak mau ribut dan menimbulkan masalah lagi
yang ku inginkan hanya ketenangan
dan membagikan diri sendiri
Makanya setelah itu aku memilih diam, cukup tau dan pura" tidak tau
Katanya Diam itu Emas dan Tersenyum itu Ibadah
Semangat mencari kebahagiaan 😊🤗#SukaDukaCewek
Aku dulu tipe orang yang suka cerita, suka ngobrol, dan gampang percaya sama orang. Tapi setelah beberapa kejadian, aku mulai sadar kalau nggak semua orang pantas tahu isi hati kita. Malah kadang, makin banyak kita bicara, makin banyak juga bahan mereka buat menilai dan ngomongin di belakang. Saat aku memilih untuk diam, bukan berarti aku lemah atau nggak berani. Justru di situ aku belajar untuk melindungi diri sendiri. Diam jadi cara paling sederhana buat jaga kesehatan mental. Aku mulai belajar bedain: kapan harus bicara, dan kapan lebih baik simpan semua di dalam doa. Lebih baik diam daripada banyak bicara itu kerasa banget waktu aku duduk sendiri di tempat yang tenang, misalnya di tepi danau atau di alam terbuka. Suasananya bikin aku mikir, ternyata nggak apa-apa kok kalau kita nggak selalu ikut keramaian. Kadang, sendirian sambil lihat pepohonan dan air yang tenang justru bikin hati lebih adem daripada ngobrol sama orang yang nggak benar-benar peduli. Aku juga pelan-pelan belajar kalau dibicarakan di belakang itu bukan akhir dari segalanya. Sakit? Jelas. Tapi daripada capek jelasin diri terus menerus, aku pilih diam dan perbaiki hidup pelan-pelan. Mereka boleh menjelekkan, tapi aku yang tahu proses dan luka yang aku bawa. Diam di sini bukan pura-pura kuat, tapi bentuk aku menghargai diri sendiri. Kalau kamu lagi di fase yang sama, merasa apa pun yang kamu ucapkan selalu salah, boleh banget kasih ruang buat dirimu. Kurangi banyak bicara ke orang yang nggak aman, fokus ngobrol sama diri sendiri dan Tuhan. Tulis di jurnal, curhat lewat doa, atau sekadar duduk diam sambil tarik napas pelan. Cara kecil kayak gitu bisa bantu kamu pelan-pelan nemuin ketenangan. Yang paling penting, diam bukan berarti kamu nggak punya suara. Kamu tetap berharga, tetap punya pendapat, dan tetap layak bahagia. Kita cuma lagi memilih tempat yang tepat untuk bersuara. Karena kadang, dunia luar terlalu bising, dan hati kita cuma butuh sedikit ruang sepi untuk sembuh. Jadi saat aku memilih untuk diam, itu bukan menyerah. Itu cara aku bilang ke diri sendiri: "Aku berhak tenang, aku berhak jaga hati." Lebih baik diam daripada banyak bicara ke orang yang salah, tapi jangan pernah diam terhadap dirimu sendiri dan kebahagiaan yang kamu cari.


Bener banget kak, kadang ada saat dimana harus pura pura gak tau aja biar gak nambah nambah masalah