#padahariini#introspeksidiri
Berbagi pengalaman pribadi, saya pernah terjebak dalam kebiasaan cepat menilai dan mengkritik orang lain, terutama di lingkungan Kota Malang yang penuh keanekaragaman karakter. Namun, setelah memahami pesan introspektif yang kuat ini, saya mulai mengubah cara pandang saya. Saya belajar untuk "pakai dulu matamu untuk bercermin"—berarti saya harus melihat dan memperbaiki kekurangan dalam diri sendiri terlebih dahulu sebelum menilai orang lain. Terkadang, kita terlalu fokus mengorek keburukan orang lain tanpa menyadari "bau busuk di dalam hatimu," yaitu kekurangan dan kesalahan yang kita punya. Selain itu, saya menyadari pentingnya empati. Kita tidak pernah tahu "hati siapa yang sedang terluka" dan tidak pantas untuk menyakiti dengan kata-kata atau perbuatan. Dengan memperkuat empati, saya mencoba untuk tidak menjadi pribadi yang "sibuk menilai" melainkan lebih menjadi pendengar yang baik. Doa dan amal juga menjadi refleksi bagus dalam hidup saya. Daripada merasa diri lebih baik, saya belajar untuk lebih rendah hati, mengingat bahwa "orang yang benar-benar baik" biasanya tidak sibuk merendahkan atau menyakiti orang lain. Introspeksi yang dilakukan secara konsisten membantu saya menjadi pribadi yang lebih damai dan bijak, terutama dalam berinteraksi sosial di Kota Malang. Saya yakin, jika kita semua mulai dari diri sendiri, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik.
