📖 Books I Turned To When I Didn’t Understand Myself #01

Aku dulu pikir perempuan itu memang harus selalu kuat.

Harus bisa semuanya.

Harus tetap jalan walau capek.

Harus tetap terlihat baik-baik saja walau di dalamnya sedang penuh.

Sampai akhirnya aku mulai bertanya pelan-pelan…

mungkin bukan aku yang kurang kuat,

tapi aku yang terlalu lama dipaksa untuk selalu kuat.

Di Untamed, aku menemukan satu pemikiran yang cukup diam lama di kepalaku:

Banyak perempuan tumbuh menjadi “baik untuk semua orang”…

tapi lupa bagaimana caranya menjadi baik untuk dirinya sendiri.

Dan itu pelan-pelan menguras tanpa kita sadari.

Kalau kamu juga lagi capek tapi tetap harus jalan…

kamu nggak harus selalu kuat.

🤍

Menurutmu, perempuan memang harus selalu kuat?

atau kita cuma terlalu lama percaya itu?#RealitaDewasa

6/23 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seorang perempuan yang juga sering merasakan tekanan untuk selalu tampil kuat di berbagai peran—sebagai anak, istri, ibu, dan pekerja—saya menemukan banyak sekali hal yang menginspirasi dari buku Untamed karya Glennon Doyle. Dalam keseharian, sering kali kita menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri tanpa menyadari bahwa itu bisa membuat kita kelelahan secara emosional dan fisik. Saya pernah mengalami masa dimana saya merasa harus menahan semua beban itu sendiri, seolah-olah meminta bantuan adalah tanda kelemahan. Namun, melalui buku ini saya belajar bahwa meminta bantuan dan beristirahat adalah bagian dari menjaga kesehatan mental dan fisik kita. Kadang, menjadi kuat bukan berarti terus menerus menahan segala sesuatu, tapi tahu kapan harus berhenti dan merawat diri. Buku Untamed mengajak kita untuk memahami bahwa banyak perempuan dibesarkan dengan pola pikir menjadi "baik" untuk semua orang, sampai lupa bagaimana menjadi baik untuk diri sendiri. Saya jadi sadar bahwa membuat waktu untuk diri sendiri bukanlah egois, melainkan cara penting untuk mengisi ulang energi dan menjaga keseimbangan hidup. Dalam perjalanan saya, mulai mencoba mengubah persepsi tersebut, saya merasakan perubahan besar dari sisi emosi dan semangat hidup. Mengakui bahwa kita tidak harus selalu kuat adalah langkah awal untuk hidup lebih autentik dan bahagia. Saya juga belajar pentingnya menetapkan batasan, mengatakan 'tidak' jika perlu, dan menerima bahwa setiap orang berhak punya waktu untuk memprioritaskan kesejahteraannya. Semoga berbagi pengalaman ini bisa menjadi pengingat bahwa perempuan tidak boleh kehilangan jati diri karena tuntutan luar. Mari bersama-sama belajar bahwa merawat diri adalah bagian dari kekuatan itu sendiri.

Posting terkait

Seorang individu memegang buku 'Everything I Know About Love' oleh Dolly Alderton, yang mengandungi esei tentang percintaan, pekerjaan dan temu janji.
Buku 'It's Okay Not To Get Along With Everyone' oleh Dancing Snail, sebuah buku bukan fiksyen Korea, diletakkan di sebelah semangkuk buah tin yang dipotong.
Buku 'The Beauty of Promised Rizq' oleh Ayesha Syahira dipegang di tangan, dengan latar belakang dewan makan yang sibuk.
Books that I’ve read for the rest of 2025 (part 1)
#BookReview #bookrecommendation
booksncandless

booksncandless

87 suka

Books that shaped my characters
Does staying honest still matter when the system around you is designed to punish exactly that? These are the books that shaped how I write her: 📖 Bumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer Idealism doesn't have to win to be meaningful. Sometimes it's enough to simply remain standing. 📖 Pa
Stellardrift_

Stellardrift_

0 suka

Lihat lainnya