Book Review | When your flatmate is a cockroach🪳✨
Book Review – The Metamorphosis by Franz Kafka
Earlier this year, I decided to challenge myself and read more classics (because why not widen the reading range😎). So, I picked up The Metamorphosis. But honestly? After the first read, I just sat there like… “Wait, what did I just read?” 😂 Didn’t really get the context, didn’t feel much.
But then I reread it recently, and this time it hit differently. I think I finally understood what Kafka was trying to say. And it left me with a way more complicated feeling than before. Like how people can value us only when we’re useful to them, and how can become cruel or destructive without even realizing it, even those who closest to us.
So, the story follows Gregor Samsa, a traveling salesman who wakes up one morning and realizes he’s turned into a giant insect. (The book never says what kind, but most people believe and assume it’s a cockroach 🫠). Instead of freaking out about being a bug, Gregor’s biggest worry is that he’s late for work and might lose his job. (I was like… Sir??, you’re an insect now, forget the office. *Peak corporate anxiety right there😅, honestly I understand that).
At first, his family is shocked but still tries to care for him. His sister even brings him food. But as time goes on, that initial sympathy fades, and they slowly start to abandon him. And… well, I’ll stop there before I spoil too much. It’s only 75 pages long, so you can easily read it in one sitting.
TMI, I hate cockroaches😬. If I ever saw one the size of Gregor, I’d probably faint on the spot like his mother. But when reading this, I couldn’t help but feel sorry for him. Imagine being treated like trash by the very people you’ve lived with and provided for just because you’re suddenly “useless.” That’s the heartbreaking part and Kafka telling the story from Gregor’s perspective makes it sting even more.
Do I recommend it? Absolutely. Everyone should give this one a try at least once in their life.
✨ Personal Rating: 4/5 stars
Happy reading, friends! 📚
Pas pertama kali dengar judul The Metamorphosis, aku kira ini bakal jadi bacaan yang berat banget dan super filosofis. Ternyata, justru karena bentuknya novella dan cuma sekitar 70-an halaman, buku ini cukup bisa dinikmati dalam sekali duduk, walau tetap meninggalkan banyak pertanyaan di kepala. Sampul bukunya sendiri sudah ngasih vibe yang "dark" dan absurd: serangga bersayap dengan wajah manusia, persis menggambarkan betapa aneh tapi menariknya dunia yang dibangun Kafka. Kalau kamu masih ragu mau mulai dari mana buat baca karya Kafka, menurutku The Metamorphosis adalah pintu masuk yang pas. Bahasa dan ceritanya memang terasa dingin dan absurdist fiction banget, tapi konfliknya dekat dengan kehidupan sehari-hari: soal kerja, keluarga, dan perasaan nggak dianggap. Gregor Samsa yang tiba-tiba berubah jadi serangga di kamar kos/flat-nya itu bisa banget dibaca sebagai simbol orang yang tiba-tiba nggak lagi memenuhi standar "berguna" di masyarakat. Waktu baca kedua kali, aku lebih fokus ke bagaimana keluarganya pelan-pelan menjauh. Di awal mereka masih peduli, tapi setelah sadar Gregor nggak bisa lagi jadi tulang punggung keluarga, sikap mereka berubah drastis. Rasanya mirip banget sama cerita orang yang kehilangan pekerjaan atau sakit berat, lalu merasa jadi beban. Di titik itu, The Metamorphosis bukan cuma kisah horor tentang serangga, tapi juga refleksi tentang kemanusiaan dan harga diri. Kalau kamu mencari review The Metamorphosis buat tahu apakah cocok dijadikan bacaan, menurutku: - Cocok kalau kamu suka cerita yang gelap, simbolis, dan bikin mikir. - Kurang cocok kalau kamu butuh jawaban jelas dan akhir yang memuaskan secara emosional, karena Kafka cenderung membiarkan pembaca menafsirkan sendiri. Buat pembaca Indonesia yang lagi eksplor klasik dunia, The Metamorphosis juga sudah tersedia dalam beberapa terjemahan bahasa Indonesia. Jadi kalau kamu belum terlalu nyaman baca bahasa Inggris, versi terjemahan bisa jadi pilihan aman. Yang penting, siap-siap aja dibuat tidak nyaman oleh cara Kafka menggambarkan tubuh Gregor sebagai serangga—apalagi kalau kamu sama kayak aku yang merinding tiap lihat kecoak. Buku ini mungkin nggak akan bikin semua orang jatuh cinta, tapi justru itu menariknya. Setelah selesai, kamu bakal kepikiran: selama ini aku memperlakukan orang-orang di sekitarku seperti manusia atau cuma sebagai fungsi dan manfaatnya buat hidupku? Dan pertanyaan itu, buatku, adalah inti mengapa The Metamorphosis masih relevan dibicarakan sampai sekarang.

