Padahal Anakku belum mengerti..
Hai Hai lemonades,,
Bunda-bunda sayang, pernah ngalamin marah sampai gak sadar teriak ke anak hanya gara-gara anak melakukan kesalahan kecil???
Aku pernah melakukan itu, saat itu anakku usianya masih 2 tahun, anakku memecahkan beberapa telur di kulkas, #PerasaanKu marah sampai gak sadar teriak. Anakku hanya melihatku dengan rasa takut. Tapi anehnya aku malah yang nangis.
Dan sekarang aku baru sadar.. anakku tidak salah, yang salah itu diriku sendiri. Ternyata masalahnya bukan di telur yang pecah, tapi amarah di hati dan pikiranku saat itu yang sudah penuh dan akhirnya pecah, jadi saat anakku melakukan kesalahan dialah yang jadi sasarannya.
Padahal kesalahan itu letaknya di aku.
Siapa disini yang pernah ngalamin kaya aku???
Menghadapi anak yang melakukan kesalahan kecil memang seringkali menjadi ujian emosional bagi para orang tua, terutama ibu yang sudah kelelahan secara fisik dan mental sepanjang hari. Seperti yang diceritakan dalam pengalaman ibu yang anaknya berusia 2 tahun dan memecahkan beberapa telur di kulkas, terkadang bukan anak yang salah melainkan akumulasi stres dan amarah di hati orang tua yang membuat situasi menjadi sulit. Seringkali, ibu atau orang tua menahan banyak tekanan dalam kesehariannya, baik dari urusan rumah tangga, pekerjaan, sampai kekhawatiran tentang masa depan anak. Ketika anak berbuat salah, seperti memecahkan telur, itu menjadi titik puncak pelepasan amarah yang sebenarnya bukan ditujukan kepada anak, melainkan akibat beban yang sudah lama dipendam. Penting bagi orang tua untuk mengenali tanda-tanda stres dan kelelahan agar tidak sampai melampiaskan amarah tanpa sadar kepada anak yang sebenarnya belum sepenuhnya mengerti dan hanya ingin belajar serta bereksplorasi. Memelihara komunikasi yang positif dan memberikan pengertian secara sabar akan membantu anak tumbuh dengan rasa aman dan percaya diri. Salah satu cara efektif adalah dengan melakukan refleksi diri setelah kejadian marah-marah, seperti yang dialami ibu tersebut yang akhirnya menyadari bahwa sumber masalah adalah dirinya sendiri, bukan kesalahan anak. Selain itu, mencari waktu untuk me time atau meminta bantuan orang sekitar bisa menjadi solusi agar ibu bisa mengelola amarah dengan lebih baik. Mengelola emosi bukan berarti menekan perasaan marah, tapi mengenal dan menyalurkan emosi tersebut dengan cara yang sehat. Misalnya, melakukan teknik pernapasan, menulis jurnal perasaan, atau berdiskusi dengan pasangan maupun komunitas ibu-ibu lainnya untuk saling mendukung. Pada akhirnya, mengasuh anak membutuhkan kesabaran dan pengertian yang terus-menerus, termasuk kepada diri sendiri sebagai orang tua. Jangan ragu untuk mencari dukungan dari profesional seperti psikolog jika merasa emosi sulit terkendali. Ingatlah, anak yang belum mengerti bukanlah musuh, melainkan cahaya kecil yang membutuhkan kasih sayang dan bimbingan agar tumbuh menjadi pribadi yang bahagia dan kuat.

Aku pernah loh. Waktu itu aku memang agak teledor naro telur di meja makan padahal posisinya udah di tengah meja, ternyata anakku yg pada itu masih umur 1 th lebih bisa manjat kursi makan dan batik lah tuh plastik isi telur 1 kg baru banget aku beli. Dan endingnya taulah, telurnya pecah semua. Waktu itu aku cuma istigfar rada kenceng dan kaget eeh anakku malah nangis mungkin kaget karena dikira aku marahin, padahal aslinya aku kesel, tp Akhirnya aku ambil nafas yg dalam beberapa kali sambil bilang ‘adek gak apa-apa’, pindah dulu yaah’. Sambil di bersihin. Aku sampai buang 3 kain lap, 2x aku lappake sabun cuci piring dan terakhir aku lap pake cairan pemutih, waktu itu aku pake so klin pemutih, biar gak amis. Z