Aku disebut Sarjana "Gagal dan sia-sia"
Haii Haii Lemonades 🍋
Flashback dulu, namaku tertulis sebagai Lulusan Terbaik I. Predikat "Sangat Memuaskan" bukan cuma sekadar tulisan di kertas, tapi pembuktian bahwa aku punya mimpi besar. Karierku pun sempat cemerlang, bahkan saat itu aku berhasil masuk jajaran Top 30 Nasional. Maaf jika aku bangga dengan diriku saat itu.
Tapi, hidup adalah tentang pilihan.
Jauh dari orang tua dan mertua, aku memilih melepas seragam kantorku demi fokus menjaga anak yang 3 tahun aku tunggu kehadirannya. Awalnya semua tampak baik-baik saja, semua kebutuhan kami terpenuhi. Sampai akhirnya, roda berputar dengan cepat.
Saat anakku menginjak usia 2 tahun, karier suami jatuh. Di titik itu, hatiku hancur. Ada luka dan rasa bersalah yang aku rasakan. Sampai aku berpikir :
"Coba kalau aku masih kerja, setidaknya jika satu kaki patah, ada kaki lain yang menopang."
Stres? Luar biasa. Terpuruk? Pasti. Tapi aku tak punya waktu untuk menangis lama-lama.
Aku banting setir. Jari yang biasanya menghitung uang ratusan juta di bank, kini berlumur tepung. Aku jadi tukang bakso, tukang gorengan, hingga pekerja serabutan. Apa pun kulakukan demi bertahan hidup.
Sakitnya, bukan cuma di fisik, tapi di telinga. Ada yang bilang:
"Kasihan ya yang biayain sekolah sampai sarjana tapi kerjanya serabutan."
"Sia-sia gelarnya kalau cuma di dapur."
Emang iya?
Kini aku sadar, pendidikanku TIDAK PERNAH sia-sia. Justru karena pendidikan itulah, aku punya mental baja untuk tidak menyerah. Gelarku mungkin tidak menghasilkan gaji seperti yang lain, yang punya gaji bulanan saat ini, tapi ilmu dan kedewasaan berpikir itulah yang membuatku mampu bertahan dan tetap waras mendidik anak dan tetap setia dengan suami di titik terendah sekalipun.
Sekolah tinggi bukan cuma soal mencari jabatan, tapi soal membentuk mental yang tidak mudah patah saat badai datang. bener gak.. ??
Buat teman-teman IRT yang sedang merasa "ijazahnya cuma numpuk di kemari" atau merasa gagal karena tidak punya penghasilan sendiri...
kalian tidak sendirian. Kita sedang berjuang di universitas kehidupan yang sebenarnya, Demi anak dan suami ❤️
Pernah nggak sih kalian dibilang "sayang sekolah tinggi tapi cuma jadi IRT"?
Share dong di kolom komentar 🥲























































