Kalimantan Tengah
4/21 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSebagai seseorang yang juga pernah mencoba menjalani kehidupan sederhana di kebun, saya dapat merasakan betapa dalamnya makna dari kata-kata "Hidup pria hanya bekerja dan bertanggung jawab, selebihnya mati tanam." Ungkapan ini bukan hanya sekadar metafora, melainkan sebuah filosofi yang mengajarkan bahwa di balik kesibukan dan tanggung jawab yang kita emban, ada keindahan dan ketenangan yang bisa kita temukan melalui bercocok tanam. Saya pernah tinggal selama beberapa bulan di sebuah desa di Kalimantan Tengah, di mana sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari bertani. Aktivitas ini bukan hanya soal menggarap tanah demi mendapatkan hasil, tapi juga sarana menenangkan pikiran dan menyambung hubungan dengan alam. Melihat tanaman tumbuh dari benih hingga panen mengajarkan saya kesabaran dan konsistensi, dua hal penting dalam mengemban tanggung jawab sebagai pria. Lebih dari itu, kebun menjadi tempat refleksi dan regenerasi energi. Saat tangan saya bercampur tanah dan keringat, saya merasakan beban pekerjaan sehari-hari sedikit terangkat. Itu sebabnya banyak pria di daerah seperti kebunkelapasaeitBGAKalteng memilih untuk memanfaatkan waktu luangnya bukan dengan bermalas-malasan, melainkan dengan "mati tanam" — sebuah istilah lokal yang bermakna menyatu dengan alam melalui bercocok tanam. Aktivitas ini membawa kedamaian dan memupuk rasa syukur atas rejeki yang diberikan alam. Melalui pengalaman ini, saya belajar bahwa keseimbangan hidup pria idealnya mengombinasikan kerja keras, tanggung jawab, dan kesempatan untuk kembali ke alam. Menghidupi tanah tidak hanya menghasilkan kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan jiwa yang sangat vital untuk kesejahteraan secara keseluruhan. Jadi, jangan remehkan keindahan proses "mati tanam" sebagai bagian penting untuk merawat diri dan menjaga mental tetap sehat.