orang kampung zaman dulu pakai kain buat pembalut😲
#TentangKehidupan pertama haid aku usia 11 THN kelas 5 SD , rasanya nyeri sekali,
pengalaman yang tak terlupakan saat pertama pakai pembalut dari kain dan harus di cuci dan di bersihkan,setelah di pakai jadi cuci kering pakai😌.
karena dulu aku tingal di kampung dan dulu di tahun 1988 belum tau ada pembalut dan juga karena faktor perekonomian juga yang mengharuskan kan pakai kain bekas yang tak terpakai buat pembalut.
kalau lemoned8✨ pakai apa waktu dulu haid.
Kalau diingat lagi, pakai pembalut kain zaman dulu itu benar-benar beda jauh dengan sekarang. Di kampung, sekitar tahun 1988, pilihan kita ya cuma kain bekas atau sisa baju yang sudah tidak dipakai. Kainnya dipotong, dilipat tebal, lalu dijadikan "pemlut" seadanya. Rasanya memang kurang nyaman, tapi waktu itu kami merasa itu sudah sangat membantu. Biasanya aku pilih kain yang agak lembut, misalnya dari baju tidur lama atau kain bermotif yang tipis tapi bisa dilipat jadi agak tebal. Kain merah polkadot putih atau kain bermotif bunga itu sering jadi andalan, soalnya gampang dibersihkan dan cepat kering. Tapi tantangannya, setiap kali haid selesai dipakai, harus langsung dicuci bersih pakai sabun, kadang pakai air hangat, lalu dijemur. Ada rasa khawatir juga, kalau tidak bersih takut menimbulkan bau atau gangguan kesehatan. Waktu itu belum banyak yang bicara soal cara merawat organ intim, jadi aku belajar dari ibu dan perempuan-perempuan lain di kampung. Mereka mengajarkan supaya kain pembalut dijemur di tempat yang cukup matahari, walau kadang disembunyikan sedikit biar tidak terlalu kelihatan orang lewat. Rasanya agak malu, tapi semua perempuan di kampung melakukan hal yang sama, jadi lama-lama terbiasa. Kalau lagi haid deras, aku sering ganti kain lebih sering supaya tidak tembus. Malam hari, kadang pakai kain yang lebih panjang dan tebal supaya lebih aman. Tidak ada perekat seperti pembalut sekali pakai, jadi kain biasanya diikat atau dipasang dengan cara yang agak ribet. Pernah beberapa kali bocor di sekolah, rasanya malu banget, tapi dari situ aku belajar bawa kain cadangan di tas. Sekarang, kalau lihat pembalut modern dengan berbagai fitur, rasanya bersyukur banget. Tapi pengalaman pakai pembalut dari kain jaman dulu di kampung itu tetap jadi bagian penting dari hidupku. Aku jadi lebih paham soal pentingnya kebersihan, cara merawat diri waktu haid, dan juga bersyukur dengan perkembangan zaman. Buat yang sekarang tertarik pakai pembalut kain lagi karena alasan kesehatan atau lingkungan, pengalaman jaman dulu ini bisa jadi pengingat bahwa kuncinya ada di cara mencuci, menjemur, dan menjaga kebersihan area intim. Kalian ada yang pernah merasakan hal yang sama? Pakai kain bermotif, sisa baju, atau pemlut buatan sendiri waktu pertama haid? Cerita-cerita kayak gini bikin kita sadar kalau perjalanan setiap perempuan menghadapi haid itu unik, tapi tetap saling terhubung lewat pengalaman sederhana seperti pembalut kain jaman dulu.


ini softex kain ya kk ?