2025/8/26 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, awalnya aku juga cuma lihat potongan gambar janji politik yang sering beredar: dari soal "stop utang luar negeri", "tidak menaikkan harga BBM", sampai "menciptakan 10 juta lapangan kerja". Tapi makin ke sini aku pengin banget bedain, mana janji yang realistis, mana yang ternyata cuma jargon kampanye. Kalau kita bahas soal utang, faktanya hampir semua negara modern punya utang luar negeri. Jadi waktu ada janji "stop hutang luar negeri", sekarang aku mikir, mungkin maksudnya lebih ke pengelolaan utang yang sehat, bukan benar-benar nol utang. Yang aku rasain sebagai rakyat, yang penting itu: apakah utang dipakai buat infrastruktur, pendidikan, kesehatan, atau cuma habis buat proyek nggak jelas. Lalu soal BBM dan tarif listrik. Dulu ada janji "tidak menaikkan harga BBM" dan "tidak menaikkan tarif dasar listrik". Realitanya, beberapa kali kita tetap kena penyesuaian harga. Dari sudut pandangku sebagai pengguna, yang paling kerasa itu daya beli: tiap harga BBM naik, otomatis harga kebutuhan lain ikut naik. Jadi meski pemerintah punya alasan soal subsidi dan APBN, di lapangan tetap aja masyarakat kecil yang paling berat. Janji "menciptakan 10 juta lapangan kerja" juga sering dibahas. Di sini aku coba jujur melihat sekeliling. Memang ada banyak proyek infrastruktur, jalan tol, pelabuhan, dan sebagainya yang katanya buka lapangan kerja. Di beberapa kota industri, teman-temanku ada yang akhirnya dapat kerja di pabrik atau proyek. Tapi di sisi lain, masih banyak juga yang nganggur atau kerja serabutan. Jadi dari kacamata aku, lapangan kerja memang bertambah, tapi persaingan juga makin ketat dan nggak semua bisa kebagian. Ada juga janji yang kelihatannya sepele tapi simbolis banget, seperti mobil Esemka dan janji soal sepak bola nasional. Hal-hal seperti ini sering dijadikan bahan sindiran karena rakyat bisa dengan mudah melihat: mobilnya jadi nggak, liga sepak bola kita makin maju nggak. Di sini aku merasa, janji-janji simbolik justru gampang dinilai bohong atau tidak, karena hasilnya kelihatan jelas di mata publik. Tentang ekonomi "meroket" dan pertumbuhan di atas 7%, ini juga menarik. Data resmi biasanya menunjukkan angka yang lebih rendah dari itu, apalagi setelah pandemi. Sebagai rakyat biasa, cara menilainya sederhana: apakah penghasilan naik sebanding dengan harga barang, apakah usaha kecil bisa bertahan, dan apakah akses ke pekerjaan makin mudah. Dari semua itu, pelajaran yang aku ambil: sebelum percaya mentah-mentah janji siapa pun, termasuk Jokowi atau calon presiden lain ke depan, kita perlu lebih kritis. Janji seperti "Jakarta bebas banjir dan macet" misalnya, kelihatan keren di selebaran, tapi kita yang tinggal di kota besar tahu sendiri, masalah banjir dan macet nggak bisa selesai dalam satu dua periode. Jadi menurutku, daripada hanya debat soal siapa "kaum ungu" atau siapa yang "penjilat", lebih penting kita sama-sama cek fakta: mana janji yang memang mustahil, mana yang sudah ada kemajuan walau belum sempurna, dan mana yang ternyata melenceng jauh. Dengan begitu, waktu pemilu berikutnya, kita bisa pilih bukan cuma karena fanatisme, tapi karena sudah belajar dari pengalaman janji-janji sebelumnya.