Adian Napitupulu kembali menyentil—dan kali ini bukan pakai sarung tangan. Pernyataan soal “sekolah online tapi siswa wajib datang ke sekolah buat ambil MBG” terdengar seperti parodi kebijakan… sayangnya ini bukan komedi, ini realita.
Bayangkan logikanya: belajar bisa dari rumah karena “efisiensi”, tapi urusan makan harus hadir fisik. Jadi sebenarnya yang wajib itu belajar atau antre nasi? Atau jangan-jangan yang penting programnya terlihat jalan, soal masuk akal belakangan?
Publik pun mulai geleng-geleng. Ini bukan lagi soal pro atau kontra MBG, tapi soal konsistensi berpikir. Kalau memang online, ya sekalian. Kalau harus datang, ya sekalian sekolah. Jangan setengah digital, setengah ritual.
Lebih ironis lagi, kebijakan seperti ini justru berpotensi menambah beban: ongkos jalan, waktu, dan risiko—semua demi “gratis” yang ternyata tetap harus diperjuangkan. Gratis tapi tidak mudah, katanya.
Sindiran Adian terasa nyelekit karena menyentuh inti masalah: kadang yang bikin bingung itu bukan rakyatnya, tapi kebijakannya. Dan ketika publik mulai bertanya “ini yang gila siapa?”, mungkin itu tanda ada yang benar-benar perlu dibenahi—bukan sekadar dibela.
Pengalaman saya sebagai orang tua murid selama masa belajar online mengungkap banyak tantangan yang dialami siswa dan keluarga. Ketika kebijakan seperti harus hadir untuk ambil MBG diterapkan, saya merasakan betapa membingungkannya situasi ini. Siswa diharuskan beradaptasi dengan aturan yang seolah tidak sinkron antara belajar daring dan kehadiran fisik. Banyak keluarga yang mengeluhkan ongkos transportasi dan waktu yang terbuang hanya untuk mengambil fasilitas yang seharusnya bisa diakomodasi secara online atau langsung dikirimkan ke rumah. Selain itu, risiko kesehatan di masa pandemi juga menjadi kekhawatiran utama. Program MBG yang bertujuan menghemat anggaran justru malah menghasilkan biaya tersembunyi yang membebani masyarakat. Menurut saya, pemerintah perlu mengevaluasi kembali kebijakan ini agar benar-benar memudahkan proses belajar siswa tanpa menimbulkan beban ganda. Alternatif pengambilan MBG secara digital atau pengantaran ke rumah bisa jadi solusi yang lebih efisien dan aman. Konsistensi dalam penerapan kebijakan online juga penting agar tidak membuat bingung para pelaksana dan penerima manfaat. Memang, memahami dan menjalankan kebijakan pendidikan selama pandemi sangat menantang. Namun, mendengarkan suara masyarakat dan menerapkan kebijakan yang realistis dan berpihak pada kemudahan siswa serta orang tua sangatlah penting. Semoga ke depan kebijakan terkait pembelajaran daring dan fasilitas pendukungnya bisa lebih terintegrasi dan bermanfaat optimal tanpa membebani.



































