Ada satu hal yang harusnya bikin kita semua berhenti sebentar ketika membaca kabar terbaru soal program Makan Bergizi Gratis. Presiden Prabowo Subianto meminta Kantor Staf Presiden menelusuri potensi celah korupsi dalam program MBG. Sekilas ini terdengar seperti langkah tegas. Bagus. Negara bergerak. Pemerintah tidak menutup mata. Tapi di sisi lain, Indonesia Corruption Watch menyebut langkah ini sangat terlambat.
Dan jujur saja, kritik itu tidak bisa langsung dianggap nyinyir. Karena sejak awal, program MBG memang bukan program kecil. Ini program raksasa, menyentuh jutaan anak, melibatkan dapur, vendor, titik SPPG, bahan pangan, distribusi, tenaga kerja, teknologi, sampai anggaran superbesar. Kalau pengawasannya baru ramai setelah isu dugaan korupsi muncul ke permukaan, publik wajar bertanya, dari awal sistem remnya dipasang di mana?
Kontan memberitakan, Presiden meminta KSP menelusuri potensi celah korupsi dalam program MBG menyusul kritik tata kelola, termasuk dugaan jual beli titik pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG. Pemerintah kemudian menegaskan bahwa Presiden tidak menutup ruang bagi aparat penegak hukum untuk mengusut dugaan korupsi MBG di tengah desakan publik. Ini penting dicatat. Artinya, secara resmi pemerintah ingin menunjukkan bahwa program unggulan ini tetap bisa diawasi dan dikoreksi. Tapi justru karena MBG adalah program unggulan, standar transparansinya harus jauh lebih tinggi daripada program biasa. Program yang membawa nama gizi anak tidak boleh berjalan dengan logika yang penting jalan dulu, nanti kalau ada masalah baru dibenahi. Anak-anak bukan bahan uji coba tata kelola.
Masalah MBG bukan cuma soal nasi, lauk, susu, atau sayur. Masalahnya ada di rantai panjang yang mengelilinginya. Siapa yang dapat titik dapur? Siapa yang jadi pemasok? Bagaimana proses seleksinya? Apakah ada standar yang sama? Apakah ada permainan akses? Apakah ada orang yang tiba-tiba menjadi broker karena merasa dekat dengan kekuasaan? Dugaan jual beli titik SPPG ini menjadi sangat serius karena titik dapur bukan sekadar lokasi. Titik dapur berarti peluang bisnis. Di sana ada kontrak, ada distribusi bahan, ada tenaga kerja, ada uang berputar setiap hari. Kalau titik ini diperjualbelikan, maka dapur yang seharusnya menjadi tempat memasak gizi bisa berubah menjadi dapur basah kepentingan.
Tujuan program ini baik. Bahkan sangat baik. Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, petani lokal bisa terserap, UMKM pangan bisa ikut bergerak, lapangan kerja terbuka, dan kualitas gizi generasi muda bisa diperbaiki. Tapi tujuan baik tidak otomatis membuat semua prosesnya bersih. Justru program dengan tujuan baik sering paling rentan dipakai sebagai tameng. Karena begitu dikritik, jawabannya gampang, ini kan untuk anak-anak. Nah, di situlah masalahnya. Justru karena ini untuk anak-anak, pengawasannya harus lebih keras. Kalau program jalan buruk, yang dirugikan bukan elite politik, bukan pejabat, bukan vendor besar, tapi anak-anak yang makan dari sistem itu.
Kalau boleh pakai bahasa agak sarkas, jangan sampai MBG ini berubah jadi program makan bergizi untuk anak, tapi makan peluang untuk orang dewasa. Jangan sampai yang di piring anak-anak dihitung ketat per kalori, tapi yang di belakang dapur malah bebas bermain angka. Jangan sampai anak-anak dapat lauk sederhana, sementara yang mengurus titik dapur dapat lauk tambahan dari jalur yang tidak kelihatan. Ini bukan tuduhan bahwa semua orang bermain. Tidak. Tapi program sebesar ini memang membuka ruang risiko. Dan risiko itu harus diakui dulu sebelum bisa dicegah.
Kritik ICW yang menyebut langkah pemerintah sangat terlambat juga perlu dibaca sebagai alarm. Bukan untuk menjatuhkan program, tapi untuk mengingatkan bahwa pengawasan tidak boleh berjalan setelah publik ribut. Seharusnya sejak awal, program sebesar MBG punya mekanisme audit terbuka, peta risiko korupsi, kanal pengaduan, perlindungan pelapor, transparansi titik dapur, daftar vendor
#indonesiagelap #viral #mbg #fyp #brandafypシ


















