Listrik Impor di Republik Makan Siang
Di Warkop Bi Mina suasana agak tegang.Televisi menyiarkan pidato presiden Prabowo Subianto yang penuh semangat. Di layar tertulis besar: “Indonesia mampu memberi makan puluhan juta rakyat setiap hari.”
Bi Mina yang sedang menggoreng pisang langsung berhenti. “Hebat sekali negeri ini,” katanya sambil melirik lampu neon warung yang berkedip-kedip. “Tapi lampu warungku ini jangan-jangan nyalanya masih cicilan dari investor asing.”
Abdul yang dari tadi sibuk meniup kopi panas ikut menimpali. “Bi, jangan begitu. Sekarang kita negara hebat. Negara lain minta beras sama kita.”
“Betul,” jawab Bi Mina. “Tapi kabel listriknya siapa yang pasang?”
Warkop langsung hening.
Inilah ironi besar Indonesia modern: negara yang sangat percaya diri bicara makan siang gratis, tetapi sangat hati-hati bicara ketergantungan teknologi.
Pemerintah dengan bangga menyampaikan bahwa Indonesia mampu memberi makan puluhan juta orang per hari lewat program MBG yang nilainya ratusan triliun rupiah per tahun. Di podium internasional, program itu dipromosikan sebagai prestasi besar bangsa.
Tidk ada yang salah dengan membantu anak sekolah memperoleh gizi yang layak. Tidak ada yang salah dengan mengurangi stunting.
Tetapi publik mulai melihat kontras yang lucu sekaligus pahit.
Untk urusan dapur, pidato kita menggelegar. Untuk urusan listrik, teknologi, dan industri strategis, kita mendadak seperti kucing basah.
Fakta yang muncul cukup mencengangkan. Anak usaha BUMN China, CCEPC, mengaku telah membangun 55 pembangkit listrik di Indonesia dengan total kapasitas hampir 14 GW. Bahkan PLN sendiri mengakui sekitar 70–75% proyek pembangkit saat ini dikuasai skema IPP (Independent Power Producer), yang banyak diisi investor asing.
Data itu membuat banyak orang mulai bertanya: sebenarnya siapa yang lebih percaya diri terhadap masa depan Indonesia — pemerintah kita atau investor asing?
China datang membawa:
modal,
teknologi,
engineering,
mesin,
kontraktor,
bahkan sistem pembiayaan.
China datang diam-diam. Tidak banyak pidato. Tidak banyak drama nasionalisme. Tahu-tahu lampu menyala.
Sementara di dalam negeri, baru ada negara tetangga bertanya soal beras, suasana langsung seperti Indonesia baru memenangkan perang dunia ekonomi.
“Malaysia minta beras!” teriak seorang pelanggan di warkop.
Bi Mina menjawab santai: “Bagus itu. Tapi kalau listrik mati, masak nasinya pakai apa?”
Masalahnya memang bukan soal beras. Masalahnya juga bukan soal makan gratis.
Masalah sebenarnya adalah arah kebanggaan nasional kita mulai terasa aneh.
Negara lain membanggakan:
chip AI,
mobil listrik,
semikonduktor,
roket,
teknologi energi,
industri militer,
riset.
Kita? Bangga karena mampu membagikan menu katering terbesar di dunia.
Satire ini mungkin terdengar kejam, tetapi ada pertanyaan serius di baliknya: mengapa bangsa yang sangat kaya sumber daya justru sangat bergantung pada asing untuk urusan teknologi dasar seperti listrik?
Indonesia punya:
batu bara,
gas,
nikel,
sungai,
panas bumi,
matahari sepanjang tahun.
Tetapi untuk membangun pembangkit besar, tetap harus memanggil investor asing.
Akhirnya rakyat bingung. Ini sebenarnya negara industri atau negara EO konsumsi massal?
Abdul mulai menghitung-hitung dengan sendok. “Bi, kalau Rp335 triliun dipakai buat riset teknologi energi bagaimana?”
Bi Mina tertawa. “Kalau itu tidak bisa dipotong pita tiap hari, Dul.”
Dan memang di situlah letak problem politik modern: program konsumsi sosial jauh lebih mudah dijual daripada pembangunan teknologi jangka panjang.
Membangun dapur umum:
cepat terlihat,
cepat dipuji,
cepat viral.
Membangun industri turbin nasional? Lima tahun belum tentu jadi bahan TikTok pejabat.
Padahal sejarah menunjukkan negara kuat bukan lahir dari program yang paling banyak membagi makanan, melainkan dari kemampuan menciptakan:
teknologi,
energi,
produktivitas,
dan kemandirian industri.
China memahami itu sejak lama.
Dan lucunya, China sendiri tidak sibuk berpidato menjadi “chef dunia”, padahal untuk urusan dapur
#indonesiagelap#viral#prabowosubianto#fyp
.







































