"KALO ADA YANG MERASA NEGARA INI SURAM, LALU MAU PINDAH NEGARA, SILAKAN SAJA. TIDAK ADA YANG MELARANG."
Data terbaru: 8000 WNI lagi proses ganti kewarganegaraan.
Isinya bukan buruh. Isinya dokter, engineer, lulusan cumlaude yang IPK-nya 3,9.
Kenapa orang pinter malah kabur dari negara yang katanya butuh orang pinter?
Jawabannya bikin nelangsa, tapi jujur.
ALASAN 1: GAJI KAYAK LANGIT VS GOT
Dokter di Indo: Rp10-30jt/bulan. Kerja 80 jam/minggu. Jaga UGD 24 jam. Kalau pasien meninggal dimarahin keluarga.
Dokter di Singapura: Rp95-130jt/bulan. Kerja 40 jam/minggu. Pasien bilang terima kasih.
Sama-sama nyelamatin nyawa. Bedanya di sana dihargai 10x lipat. Di sini dihargai pakai kata "pengabdian" dan "sumpah dokter".
Pengabdian gak bisa buat bayar KPR.
ALASAN 2: PAJAK NYEKIK + PAJAK SILUMAN
Pajak Indo: PPh 35% buat yang gajinya gede. Belum selesai.
Ada pajak lain yang gak ada di UU:
• Oknum berseragam: "uang rokok ya dek" • Ormas: "uang keamanan" • Birokrasi: "uang pelicin biar cepet" • Parkir liar: "2rb bang, 5 menit doang"
Singapura: 24%. Udah. Titik. Bersih. Gak ada amplop. Gak ada "ada orang dalem?"
Lu bayar 35% + 10% pajak siluman = 45% gaji hilang buat nyogok sistem.
ALASAN 3: NEGARA GAK BUTUH OTAK PINTER, BUTUH OTOT MURAH
Data BPS: 7,24 juta nganggur. Banyak sarjana terbaik jadi admin dengan gaji UMR.
Kenapa? Karena kita gak ada hilirisasi otak.
Tambang nikel dikirim mentah ke China, baru dibalikin jadi baterai mahal.
Otak cerdas dikirim mentah ke Singapura, baru dibalikin jadi produk mahal.
Yang pinter disuruh bikin skripsi 100 halaman yang ujungnya jadi bungkus gorengan di perpus.
Yang di luar, otak lo dibayar mahal buat mikir.
ALASAN 4 : KUALITAS HIDUP BEDA KELAS
Di luar:
✅ Sistem jelas, daftar online 5 menit jadi
✅ Pola pikir terbuka, beda pendapat gak dimusuhin
✅ Gak ada pungli parkir 2rb padahal cuma 5 menit
✅ Sekolah anak gratis, kualitas bagus, toilet wangi
Di sini:
❌ "Mau urus apa? Ada orang dalem?"
❌ "Bayar dulu baru diproses"
❌ Lapor maling motor, disuruh bawa materai & fotokopi KTP malingnya
Orang kabur bukan karena benci Indonesia. Tapi karena capek berantem sama sistem tiap hari.
Sebagai seseorang yang pernah tinggal dan bekerja di Indonesia maupun di luar negeri, saya memahami betul berbagai alasan kuat yang mendorong WNI pintar untuk pindah kewarganegaraan. Salah satu hal yang sangat nyata adalah perbedaan dalam penghargaan terhadap profesi tertentu, terutama dokter dan engineer. Di Indonesia, gaji mereka relatif kecil dengan jam kerja yang sangat panjang dan penuh tekanan. Saya pernah berbincang dengan seorang dokter muda yang kerja jaga UGD sampai 24 jam penuh, mengaku mendapat tekanan besar karena jika pasien meninggal keluarganya bisa marah saat itu juga. Bandingkan dengan pengalaman teman saya yang menjadi dokter di Singapura – ia bekerja setengah jam lebih sedikit, mendapatkan gaji jauh lebih tinggi, serta apresiasi dari pasien yang nyata tanpa stigma "pengabdian" yang terkadang terasa melelahkan. Selain itu, saya juga mengalami sendiri sistem birokrasi di Indonesia yang seringkali membutuhkan banyak “uang pelicin” walau untuk hal kecil seperti parkir atau pengurusan dokumen. Ini sangat melelahkan secara mental dan finansial. Pajak yang tinggi ditambah berbagai pungutan tak resmi membuat penghasilan terasa cepat habis. Dalam pengalaman saya di luar negeri, struktur pajak jauh lebih transparan dan jelas tanpa biaya tersembunyi seperti itu. Faktor ketiga yang saya rasakan adalah sulitnya memanfaatkan potensi intelektual dalam negeri. Banyak sarjana yang berakhir bekerja dengan gaji minim atau di posisi yang jauh dari bidang keahlian mereka. Hilangnya peluang pengembangan dan hilirisasi industri inovatif membuat banyak lulusan terbaik merasa tidak dihargai dan cenderung memilih bekerja di luar negeri yang lebih menghargai dan memberikan kesempatan. Perbedaan signifikan dalam kualitas hidup juga tidak bisa diabaikan. Saya sendiri pernah mengalami proses administrasi dan pelayanan publik yang sangat berbelit, berbeda jauh dengan pengalaman di negara maju yang sistemnya serba digital dan cepat. Anak-anak saya pun lebih merasakan kenyamanan di sekolah luar negeri dengan fasilitas yang lebih bersih dan aman. Menjadi warga negara di negara lain bukan keputusan mudah bagi siapa pun. Namun, dari pengalaman saya dan banyak cerita lain yang saya dengar, alasan utama bukanlah kebencian terhadap Indonesia, melainkan kelelahan menghadapi sistem yang tidak mendukung dan sulit berubah. Jika pemerintah ingin mencegah brain drain, perlu adanya perubahan nyata dalam penghargaan profesi, transparansi pajak, dan kualitas pelayanan publik yang mampu memberikan kenyamanan dan keadilan bagi rakyat.

