5 Aliran Sesat Yang Pernah Ada di Indonesia
5 Aliran Sesat Yang Pernah ada di Indonesia
1. Ahmadiyah
Asal: India (didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad, akhir abad ke-19)
Dinyatakan sesat oleh MUI (Fatwa 1980, ditegaskan 2005)
Kenapa disebut sesat?
Mengaku Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi setelah Nabi Muhammad ﷺ.
Padahal Islam menegaskan:
"Muhammad adalah penutup para nabi." (QS. Al-Ahzab: 40)
Mengubah makna jihad dan wahyu dengan tafsir baru di luar Al-Qur’an & Sunnah.
Punya kitab tafsir & hadis sendiri di luar sumber Islam yang diakui.
2. Lia Eden / Salamullah
Pendiri: Lia Aminuddin (Jakarta, 1990-an)
Kenapa disebut sesat?
Mengaku mendapat wahyu langsung dari malaikat Jibril.
Mengaku sebagai reinkarnasi Maryam dan utusan Tuhan.
Mengajarkan sinkretisme (mencampur ajaran semua agama jadi satu).
Ini bertentangan dengan tauhid dan prinsip kerasulan dalam Islam.
3. Al-Qiyadah Al-Islamiyah
Pendiri: Ahmad Mushaddeq (2006)
Kenapa disebut sesat?
Pendiri mengaku sebagai rasul setelah Nabi Muhammad ﷺ.
Mengubah syahadat menjadi:
"Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna al-Masih al-Mau’ud Rasulullah."
Tidak mewajibkan salat lima waktu dan puasa Ramadhan.
Ini jelas bertentangan dengan rukun Islam dan akidah.
4. Millah Abraham / Gafatar
Turunan dari: Al-Qiyadah Al-Islamiyah
Dideklarasikan sekitar 2011
Kenapa disebut sesat?
Menolak syariat Islam dan semua agama formal.
Menganggap semua agama sama, dan “nabi terakhir” mereka adalah Ahmad Mushaddeq.
Bertentangan dengan ajaran Islam yang menegaskan khatamun nabiyyin (penutup kenabian).
5. Hakekok Balakasuta
Asal: Pandeglang, Banten (2021, viral)
Kenapa disebut sesat?
Melakukan ritual mandi telanjang bersama sebagai bentuk “penyucian diri”.
Menyebut ibadah formal seperti salat tak wajib.
Menyimpang dari syariat dan akhlak Islam.
Hakekok Balakasuta adalah salah satu aliran sesat yang muncul paling baru di Indonesia, tepatnya pada tahun 2021 di Pandeglang, Banten. Saya sempat membaca bahwa ritual utama mereka berupa mandi telanjang bersama yang mereka klaim sebagai bentuk penyucian diri. Praktik ini tentu saja bertentangan dengan norma dan ajaran Islam yang berlaku umum. Aliran ini juga menganggap bahwa ibadah formal seperti salat lima waktu tidak wajib, sebuah keyakinan yang bertolak belakang dengan rukun Islam yang harus dipatuhi oleh umat Muslim. Kepercayaan dan praktek mereka membuat banyak kalangan ulama dan masyarakat menganggap mereka menyimpang dan berbahaya bagi keimanan. Menurut pengalaman saya berdiskusi dengan beberapa orang yang pernah mengalami fenomena ini di daerahnya, aliran seperti Hakekok Balakasuta memang cukup berisiko karena bisa mempengaruhi masyarakat terutama yang kurang mendapat pemahaman agama yang benar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali ciri-ciri aliran sesat dan selalu merujuk kepada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah agar tidak terjerumus pada hal yang menyimpang. Mereka yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Hakekok Balakasuta dianjurkan untuk mencari referensi dari ulama atau sumber terpercaya agar bisa membedakan mana yang benar dan salah sesuai dengan syariat Islam. Pengetahuan akan hal ini juga membantu kita menjaga keimanan dan memperkuat ukhuwah di tengah perbedaan keyakinan yang ada.





