Manusia Tidak Akan Pernah Puas
Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى ثَالِثًا
وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ
Artinya:
“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah penuh dengan harta, niscaya dia akan mencari lembah yang ketiga. Dan tidak ada yang bisa memenuhi perut anak Adam selain tanah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan melarang bekerja atau mencari harta, tapi menjelaskan tabiat manusia:
- Sudah punya satu → ingin dua
- Sudah dua → ingin tiga
- Tidak ada titik puas, kecuali kematian
“Mulut/perut dipenuhi tanah” adalah kiasan kubur.
Islam tidak anti kekayaan, yang berbahaya adalah:
- Harta jadi tujuan hidup
- Tidak pernah merasa cukup
- Lupa akhirat
- Lupa bersyukur
Relate banget dengan kehidupan sekarang
Hadits ini “kena” banget di zaman:
- Kejar target tanpa akhir
- Bandingkan hidup dengan orang lain
- Lelah tapi tidak pernah puas
- Sudah cukup, tapi merasa kurang
Solusi Islam bukan berhenti berusaha, tapi:
✅Qona’ah (merasa cukup)
✅Syukur
Islam tidak melarang:
✅Bisnis berkembang
✅Cabang banyak
✅Profit naik
Yang dilarang itu niat dan orientasinya.
Kalau cabang bisnis banyak karena:
✅Buka lapangan kerja
✅Gaji karyawan layak
✅Produk/jasa bermanfaat
✅Zakat, sedekah, wakaf jalan
itu ibadah, bukan ketamakan.
Nabi ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik harta yang baik adalah harta di tangan orang shalih.”
(HR. Ahmad)













