IRT Produktif (Berkebun dihalaman depan)
Hai bunnn ada yang sama seperti ku ✌🏻
Aku lebih memilih berkebun daripada mengkoleksi bunga-bunga 😁
seperti anak-anak bibitku yang mulai keluar aku nanamny dari biji
Seperti, biji cabai yang busuk aku semai dipot bunga
Biji kacang panjang yang udah tua aku rendam dulu sehari semalam baru aku tanam dipot.
Dan ada kangkung yang akarnya udah aku rendam dulu baru aku tanam hehehe.
Itung-itung refresh otak yang lelah dengan kerjaan rumah + menghadapi toddler , jadi ku alihkan supaya tidak begitu suntuk berada dirumah saja. Hehehe 😂
Awal mula aku mulai berkebun di halaman depan sebenarnya karena merasa gampang capek dan cepat suntuk sama rutinitas IRT. Bangun pagi langsung beberes rumah, masak, urus toddler yang lagi aktif-aktifnya, rasanya kayak nggak punya waktu buat diri sendiri. Sampai akhirnya aku coba alihin stres ini dengan berkebun kecil-kecilan, dan ternyata manfaatnya banyak banget. Secara mental, berkebun tuh berasa kayak terapi gratis. Pas tangan kena tanah, fokus mindahin bibit, nyiram tanaman, aku jadi lebih mindful dan nggak terlalu mikirin hal-hal yang bikin overthinking. Ada rasa puas setiap liat tunas kecil muncul dari biji cabai yang dulu busuk atau kacang panjang yang sebelumnya cuma aku rendam semalaman. Momen-momen kecil kayak gitu tuh bikin hati hangat, dan pelan-pelan bikin aku merasa lebih bahagia berada di rumah. Dari sisi fisik, berkebun juga bikin badan lebih aktif. Jalan bolak-balik ke halaman, ngangkat pot, jongkok, berdiri lagi, ternyata lumayan jadi olahraga ringan. Tanpa sadar, badan jadi lebih luwes, nggak gampang pegal, dan tidur malam pun lebih nyenyak karena seharian dipakai gerak, bukan cuma duduk capek di depan TV atau HP. Manfaat lainnya yang kerasa banget adalah dari segi pengeluaran. Walaupun kebunnya cuma di halaman depan, tapi kalau rutin, lama-lama bisa mengurangi belanja sayur. Cabai hasil semai sendiri, kangkung dari stek akar yang sebelumnya direndam, sampai kacang panjang dari biji tua, semuanya bisa dipanen dan dipakai buat masak harian. Memang belum besar, tapi cukup bikin aku ngerasa sedikit lebih mandiri. Apalagi kalau aku targetkan tahun ke tahun, misalnya N 2025 jadi tahun di mana aku pengen kebun kecil ini lebih produktif lagi. Secara emosional, berkebun juga ngasih manfaat buat hubungan aku sama anak. Toddler-ku kadang aku ajak ikut nyiram tanaman atau pegang tanah, jadi dia belajar hal baru soal alam dan tumbuhan. Daripada dia bosan di dalam rumah terus, dia bisa eksplor di halaman depan bareng aku. Ini bikin quality time kami lebih berasa, dan aku sendiri jadi nggak mudah meledak kalau dia lagi rewel. Buat teman-teman IRT yang merasa jenuh, capek, atau lagi bahas mental health, berkebun di halaman depan bisa jadi salah satu kegiatan sederhana tapi penuh manfaat. Nggak perlu langsung punya banyak alat atau tanaman mahal, mulai aja dari biji cabai bekas dapur, sisa akar kangkung, atau biji kacang panjang yang sudah tua. Pelan-pelan, kamu bakal ngerasain manfaatnya buat mental, fisik, dan dompet. Yang penting konsisten, nikmati prosesnya, dan anggap berkebun ini sebagai me time produktif di tengah riuhnya pekerjaan rumah dan anak kecil.

































































