kembali lagi bersama tarastudiess yang sudah berbulan bulan tidak kelihatan lagi di lemon8. Akhirnya aku kembali untuk ngonten lagi setelag drama per skripsian ini selesai🤣. Jadi aku menghilang dari lemon8 karena proses skripsi aku penuh drama yang menguras mental (sampai ga haid 3 bulan). Namun semua itu terbayarkan dipuji oleh ketua penguji dan anggota penguji 1 disaat proses tanda tangan revisi. Katanya "kalau mbak anak bimbingan saya, sudah saya tawarin publish jurnal".
jadi gimana caranya? simak di postingan ya🥰
kalau kalian gimana? ada momen yang tak terlupakan gaa selama skripsian?
... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku juga takut banget sama yang namanya dosen penguji skripsi. Kebayangnya cuma dibantai, ditanyain hal-hal yang nggak aku kuasai, dan ujungnya nangis di luar ruang sidang. Tapi setelah ngalamin sendiri prosesnya dari awal sampai dipuji, ternyata kuncinya tuh bukan sekadar jago ngomong, tapi gimana kita ‘nggak ngerepotin’ dosen penguji dan nunjukin kalau kita serius sama penelitian kita.
Pertama, kenalin dulu karakter dosen penguji skripsi kamu. Biasanya nama dosen penguji udah keluar beberapa hari sebelum sidang atau sebelum seminar. Manfaatin waktu itu buat cari tahu gaya mereka: apakah perfeksionis di metode, detail di teori, atau lebih fokus ke manfaat penelitian. Kamu bisa tanya kakak tingkat yang pernah diuji sama beliau, atau cek rekam jejak mereka di kampus. Ini ngebantu banget buat nyiapin jawaban dan ngatur fokus belajar.
Kedua, rapikan naskah skripsi sebelum sampai di tangan dosen penguji. Jangan nunggu mereka yang nunjukin typo, tabel berantakan, atau daftar pustaka kacau. Hal-hal kecil kayak konsistensi istilah, penomoran bab, sampai format kutipan itu kelihatan banget di mata dosen penguji. Waktu mereka baca skripsi yang rapi, kesannya kamu teliti dan niat. Itu sudah jadi poin plus sebelum mereka ketemu kamu di ruang sidang.
Ketiga, pahami isi skripsi kamu sendiri dari depan sampai belakang. Kedengarannya sepele, tapi banyak yang kejebak: yang ngerti cuma bab 4 (hasil) tapi bab 1–3 cuma ‘nurut dosen pembimbing’ tanpa paham. Dosen penguji skripsi sering banget nanyain hal dasar: kenapa milih judul itu, kenapa lokasi penelitiannya di situ, kenapa pakai teori A bukan teori B. Jawaban yang mantap dan nyambung bikin mereka yakin kalau kamu beneran ngerjain skripsi ini, bukan sekadar ikut arus.
Keempat, sesuaikan topik dengan tren dan keunikan. Waktu aku ganti judul jadi soal fenomena perubahan pola pikir pernikahan pada wanita berpendidikan tinggi generasi milenial dan zoomer di Kota Surakarta, dosen penguji jadi tertarik karena temanya relate dan lagi banyak dibahas. Dosen penguji skripsi itu seneng kalau topik kamu aktual dan punya kontribusi, bukan cuma ‘diulang’ dari skripsi tahun-tahun sebelumnya.
Kelima, saat sidang, jangan defensif. Kalau dikomentari atau dikoreksi, jawabnya pelan-pelan, akui kalau memang ada kekurangan, dan tambahin penjelasan seperlunya. Dosen penguji itu bisa bedain mana mahasiswa yang sok tahu sama yang bener-bener mau belajar. Sikap yang sopan, nggak ngeyel, dan mau menerima masukan sering bikin suasana sidang lebih cair.
Terakhir, setelah sidang dan revisi, ikuti revisi dosen penguji dengan serius. Beberapa dosen penguji justru baru ‘jatuh hati’ sama mahasiswa setelah lihat revisinya rapi dan cepat. Dari situ bisa kebuka peluang lain, kayak diajak riset bareng atau ditawari publish di jurnal.
Intinya, dosen penguji skripsi itu bukan musuh. Kalau kita datang dengan skripsi yang rapi, topik yang jelas, paham isi penelitian, dan sikap yang enak, kemungkinan besar mereka akan respect—bahkan nggak menutup kemungkinan kamu juga bakal dapat pujian kaya yang aku alami.
selamat ya kak