TIDAK ADA YANG BISA DIMASAK
“Bagus nggak?”
Anjas duduk di sofa, satu kaki menyilang. Tatapannya mengarah ke Vivi, tapi tidak benar-benar memperhatikan detailnya.
“Bagus.”
“Serius?”
“Iya.”
Vivi menoleh. Matanya menatap lebih lama.
“Kamu dari tadi jawabnya gitu semua.”
Anjas tersenyum tipis.
“Karena kamu memang cocok pakai apa saja.”
Vivi mendengus kecil, tapi bibirnya tetap tersenyum. Ia berputar pelan di depan cermin.
“Ini pernikahan kita, Njas.”
Anjas bangkit. Ia mendekat, berdiri di belakang Vivi. Tangannya menyentuh bahu perempuan itu, lalu berhenti di sana.
“Makanya harus sempurna.”
Vivi menatap bayangan mereka di cermin.
“Tapi aku hanya istri kedua?”
Sunyi turun sejenak.
Anjas menghela napas.
“Aku sudah bilang, ini cuma formalitas. Bagiku kamu istriku satu-satunya.”
“Mau gimana lagi.”
Nada suara Vivi berubah. Tipis, tapi jelas.
Anjas menatapnya dari pantulan cermin.
“Aku nggak punya pilihan.”
“Kamu punya.”
Vivi menoleh cepat.
“Kamu bisa cerai.”
Tatapan Anjas mengeras.
“Kamu tau risikonya.”
Vivi diam. Rahangnya mengencang.
Ia tahu.
Semua harta itu.
Semua yang selama ini membuat Anjas seperti sekarang.
Akan hilang.
Dan itu bukan hanya kehilangan bagi Anjas
tapi juga untuk dirinya.
Vivi menelan semua itu.
Ia menarik napas, lalu tersenyum lagi. Senyum yang lebih rapi.
“Ya sudah.”
Anjas mengernyit.
“Ya sudah?”
“Iya. Di kertas aja aku yang kedua.”
Ia mendekat.
“Tapi di hidup kamu… aku yang pertama.”
Tatapannya dalam. Penuh keyakinan yang dipaksakan.
Anjas menatapnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Iya.”
Jawaban itu keluar tanpa ragu.
“Cuma kamu.”
Vivi mengangguk kecil. Ia memilih percaya.
Karena tidak ada pilihan lain.
Anjas memeluknya dari belakang.
“Sebentar lagi selesai.”
“Cepat, ya.”
“Iya.”
Di dalam kepalanya, semuanya sudah tersusun rapi.
Gita tidak akan tahu.
Gita tidak akan mengganggu.
Yang ada hanya satu kehidupan—
yang ia pilih sendiri.
—
Sapu itu kini tergeletak di lantai.
Gita duduk di kursi kayu yang berdebu. Punggungnya bersandar lemah. Napasnya masih terasa berat setelah membersihkan sebagian ruangan.
Yuri duduk di lantai, memainkan bonekanya. Sesekali ia melihat ke arah ibunya.
“Ma…”
Gita menoleh.
“Kenapa?”
Yuri menatapnya.
“Ada makanan? Aku lapar.”
Pertanyaan itu lagi.
Gita menelan ludah.
“Iya… Mama cari dulu.”
Ia berdiri pelan. Kakinya terasa pegal, tapi ia tetap berjalan ke dapur.
Rak itu masih kosong.
Tidak berubah.
Ia membuka satu per satu wadah lagi.
Masih kosong.
Tangannya meraih ponsel.
Nomor itu ditekan lagi.
Nada sambung, tidak ada.
“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi.”
Gita menatap layar itu lebih lama.
Alisnya mengerut.
Ia mencoba lagi.
Tetap sama.
Ia menurunkan ponsel perlahan.
“Mas Anjas pasti lagi sibuk…”
Kalimat itu keluar pelan.
Lebih seperti membujuk dirinya sendiri.
Ia duduk di kursi dapur.
Tangannya memijat pelipis.
Pikirannya mulai berputar.
Uwang.
Ia membuka dompetnya.
Beberapa lembar tersisa.
Tipis.
Tidak cukup untuk lama.
Ia menatap uwang itu lama.
Lalu menutup dompet.
“Harus cari cara.”
Ia berdiri lagi.
Matanya menyapu dapur.
Kosong.
Tidak ada yang bisa dimasak.
Ia melangkah ke depan rumah.
Melihat ke jalan.
Sepi.
Beberapa rumah berjajar, tapi jaraknya tidak dekat. Tidak ada toko besar. Tidak ada tempat kerja seperti di kota.
Hanya jalan kecil.
Dan suara yang sesekali lewat.
Gita melangkah keluar pagar.
Yuri mengikutinya dari belakang.
“Ma, kita mau ke mana?”
“Jalan-jalan.”
Gita berjalan menyusuri jalan itu.
Beberapa orang melirik.
Tatapan mereka tidak ramah.
Seorang ibu berdiri di depan rumah, menyapu halaman. Matanya memperhatikan Gita dari ujung kepala sampai kaki.
“Baru pindah?”
Gita berhenti.
“Iya.”
Ibu itu mengangguk, tapi tidak tersenyum.
“Rumah yang ujung itu, ya?”
“Iya.”
“Sudah lama kosong.”
Gita mengangguk.
“Iya.”
Sunyi lagi.
Gita memberanikan diri.
“Di sini… ada tempat kerja nggak ya, Bu?”
Ibu itu tertawa kecil. Bukan tawa ramah.
“Kerja?”
“Iya.”
“Kerja apa?”
Gita terdiam.
Ia tidak tahu harus jawab apa.
Ibu itu melanjutkan.
“Di sini paling, ya ke sawah.”
“Kalau nggak, ya bantu-bantu kebun.”
“Warung juga paling cuma punya orang sini.”
Tatapannya berubah sedikit.
“Kalau baru datang… ya susah.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup jelas.
Gita mengangguk pelan.
“Iya… makasih, Bu.”
Ia berjalan lagi.
Langkahnya lebih pelan.
Pikirannya semakin penuh.
Yuri menggenggam tangannya.
“Ma… aku lapar.”
Gita menunduk. Ia mengusap kepala Yuri.
“Iya… sebentar lagi, ya.”
Tapi dalam hatinya—
tidak ada jawaban.
—
Langkah mereka kembali ke rumah.
Lebih cepat.
Lebih berat.
Gita masuk ke dapur lagi.
Ia berdiri di sana, diam.
Seolah berharap sesuatu muncul begitu saja.
Tidak.
Semua tetap kosong.
Yuri duduk di kursi.
“Ma… perutku sakit.”
Gita menutup matanya.
Hanya sebentar.
Ia menarik napas panjang.
Lalu membukanya lagi.
Tatapannya berubah.
Lebih fokus.
Lebih terdesak.
Ia berjalan ke arah pintu belakang.
Membukanya.
Halaman itu kembali terlihat.
Tanaman liar yang tadi ia lihat.
Hijau.
Banyak.
Seolah menawarkan sesuatu.
Gita melangkah turun.
Kakinya menyentuh tanah.
Ia berjalan pelan ke arah tanaman itu.
Berjongkok.
Tangannya mendekat.
Berhenti.
Daunnya kecil.
Tebal.
Segar.
Ia ingat sesuatu.
Samar.
Ia pernah melihat ini.
Di video.
Orang-orang memetiknya.
Memasaknya.
Memakannya.
Katanya…
bisa dimakan.
Sehat.
Murah.
Tapi—
itu hanya dari layar.
Ia belum pernah mencoba.
Belum pernah memastikan.
Yuri berdiri di sampingnya.
“Ma… itu apa?”
Gita tidak menjawab.
Matanya terus menatap tanaman itu.
Jari-jarinya hampir menyentuh.
Tapi ragu.
Kalau salah—
Kalau ini beracun—
Kalau Yuri kenapa-kenapa—
Napasnya terasa sesak.
Yuri menarik bajunya lagi.
“Aku lapar…”
Suara itu pelan.
Lemah.
Gita menutup mata.
Lalu membukanya lagi.
Tangannya maju.
Menyentuh daun itu.
Dingin.
Segar.
Gita baru sadar... ternyata rasa lapar bisa bisa membuat manusia mempertimbangakan hal-hal yang dulu mustahil.
Ia memetik satu.
Menatapnya lebih dekat.
Daun kecil itu ada di genggamannya.
Ringan.
Tapi terasa berat.
Sangat berat.
Yuri menatapnya.
“Kita makan itu, Ma?”
Gita diam.
Waktu terasa berhenti di titik itu.
Semua pilihan terasa salah.
Semua pilihan terasa berisiko.
Ia menelan ludah.
Matanya kembali ke daun itu.
Lalu ke wajah Yuri.
Dan satu pertanyaan itu kembali muncul.
Lebih keras.
Lebih menekan.
apa ini benar bisa dimakan?
Judul : Krokot Perebut Suami
Penulis : Tarshe
Pf : KBM
Kisah Gita dan Yuri dalam menghadapi kesulitan pangan di kampung menunjukkan bagaimana kondisi sulit bisa memaksa seseorang untuk mencoba solusi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, seperti memanfaatkan tanaman liar krokot sebagai bahan makanan. Sebagai seseorang yang pernah mengalami keterbatasan bahan makanan, saya bisa merasakan betapa besar keraguan dan kekhawatiran yang menyelimuti saat mencoba sesuatu yang belum pasti. Krokot, yang dikenal juga sebagai tanaman liar yang mudah ditemukan di pekarangan, ternyata memiliki kandungan nutrisi yang cukup baik dan telah dipakai sebagai makanan alternatif oleh masyarakat tertentu. Namun, saat menghadapi situasi darurat seperti Gita, kekhawatiran tentang keamanan dan rasa tanaman tersebut tentu menjadi hal yang sangat wajar. Saya sendiri pernah mencari informasi melalui video dan artikel di internet untuk memastikan langkah yang aman sebelum mencoba memasak dan mengonsumsi tanaman ini. Pengalaman saya mengajarkan bahwa mencari sumber makanan alternatif saat krisis adalah langkah kreatif dan penting, tetapi diiringi dengan sikap hati-hati terutama saat melibatkan anak kecil. Penting untuk mengenali tanaman terlebih dahulu, mengetahui cara memasak yang benar supaya aman dikonsumsi, dan selalu menyiapkan cadangan makanan jika memungkinkan. Selain itu, cerita tentang Gita juga mengangkat sisi sosial kehidupan di kampung yang mungkin agak sulit mendapatkan pekerjaan dan dukungan, sehingga kondisi ekonomi menjadi faktor utama tekanan batin yang dialaminya. Dalam konteks ini, solidaritas masyarakat dan akses informasi yang baik menjadi sangat krusial agar keluarga seperti Gita bisa mendapatkan bantuan atau alternatif penghasilan lain. Saya berharap cerita seperti ini bisa lebih membuka mata kita semua tentang kondisi nyata yang dialami oleh banyak orang di daerah terpencil. Penting bagi kita untuk memahami dan memberi dukungan, baik melalui edukasi, bantuan sosial, atau sekadar empati yang nyata. Perjuangan bertahan hidup seperti Gita bukan hanya soal makanan, tapi juga soal harapan dan keteguhan hati yang perlu kita hargai bersama.




















