“Aku tidak habis pikir, kok bisa Pak Ahmadi dan Bu Inur punya anak secantik itu?” Seorang pelayat berbisik pada orang di sampingnya.
“Sama. Aku juga heran. Tia itu persis bule. Ibarat langit dan bumi kalau dibanding orang tuanya.”
“Kabarnya dia anak angkat.”
“Pastilah. Tak mungkin anak kandung Pak Ahmadi. Tapi sama bule mana Bu Inur seling-kuh? Di kampung ini mana ada bule, sedangkan Bu Inur sakit sakitan sejak muda. Keluar rumah saja tidak pernah.”
“Kalau begitu, anak siapa ya Tia ini?”
Orang-orang itu terus bergosip. Pergunjingan mereka stop saat gadis kecil itu menoleh dan menatap mereka berdua.
Ada yg berdenyut sakit di dalam dada gadis kecil itu. Anak ang-kat? Anak perse ling kuhan?
Mengapa mereka terus mengatakannya? Benarkah semua yang mereka katakan?
Usia Tia baru 5 tahun ketika pertama kali mendengar isu-isu tersebut. Usia dimana ia masih terlalu kecil untuk mengerti makna anak ang-kat, anak ha-ram atau anak perseling-kuhan.
Hari ini, saat usianya 10 tahun, mereka mengatakannya ketika ia sedang berduka kehilangan Ibu. Kejam sekali mereka, pikirnya.
Kecurigaan dan tanda tanya mulai tumbuh di dalam dirinya. Kecantikan yg ia miliki begitu paripurna. Ia secantik putri dari Eropa. Sudah pasti ia bukan anak kedua orang tuanya.
Sayangnya, ia tidak pernah berani menanyakan. Kepergian Ibu membuat Ayah terpukul. Ayah banyak termenung dan menjadi sangat pendiam.
Akhirnya, ia memutuskan menyimpan pertanyaan itu seorang diri.
-
Ahmadi, ayah Tia, menikah lagi beberapa bulan kemudian. Ahmadi hanya ingin mencari ibu pengganti bagi Tia yg amat ia kasihi.
Ida merupakan janda tanpa anak dan masih sepupu jauh Inur. Ahmadi memilih perempuan yang masih kerabatnya, karena tidak ingin Tia diasuh orang lain di luar keluarga.
Pada akhirnya terbukti bahwa keputusan Ahmadi itu keliru. Perlakuan Ida pada Tia laksana majikan terhadap budak. Di belakang Ahmadi, dia garang luar biasa dan selalu menyiksa Tia.
Pada awalnya Ahmadi tidak tahu semua itu. Namun pada suatu malam, ia mendengar isak tangis dari kamar putrinya. Ia pun menjadi curiga.
“Ada apa, Nak, apa yg kau tangisi?” Suaranya lembut membujuk.
Tia menahan tangis, mencengkeram selimut semakin erat.
“Ini tanganmu kenapa?” Ahmadi terkejut melihat kondisi putrinya. Tangan Tia melepuh, terdapat biru-biru pada lengannya. “Ini, apa ini? Ayo jawab!!”
“Dicubit Buk Ida.” Tia menjawab takut-takut.
“Mengapa Buk Ida mencubitmu? Jawab Abak, Tia!”
“Karna ... aku mencuci kuali tidak bersih."
"Lalu ini kenapa melepuh?! Kenapa!!"
"Di--disiram Ibuk pakai minyak panas."
Wajah Ahmadi berubah gelap. Dengan langkah lebar ia pergi ke kamar sebelah, lalu membangunkan Ida yg tidur mendengkur. Detik berikutnya, terdengar cekcok suami istri. Keduanya perang dingin hingga berhari-hari. Membuat Tia ketakutan Ida akan semakin membencinya.
Dua hari kemudian, Tia melihat ayahnya duduk termenung. Ahmadi tersenyum melihat Tia, lantas meminta gadis itu duduk di sampingnya.
“Abak sudah titip salep kulit yg paling bagus pada Pandro. Dia ke Pekanbaru kemarin sore. Nanti kalau obatnya sudah dapat, oleskan pada kulitmu, insyaAllah akan hilang bekasnya.”
"Makasih, Abak."
Tia teringat betapa seringnya abang angkatnya itu pergi-pergi. Sedangkan Tia sama sekali belum pernah keluar dari desa ini.
"Anu ... Bang Pandro selalu ke Pekanbaru, ya."
"Kamu ingin ke sana?" Senyum Abak dengan lembut.
"Cuma tanya."
"Bang Pandro ke bandara, jemput anak bosnya dari Jakarta.”
"Bos yg punya pabrik itu?"
"Iya. Bos Bang Pandro kan bos Abak juga. Abak dan Bang Pandro-mu itu kan satu pabrik, cuma beda bagian."
"Pabrik itu punya Keluarga Heinzh, bukan?"
"Betul. Heinzh Palm itu punya Keluarga Heinzh. Mereka itu campuran Indonesia, Inggris dan Swiss."
Tia mengangguk-angguk, dalam hati merasa kagum luar biasa.
Heinzh. Alangkah hebatnya mereka, desisnya.
Gadis 13 tahun itu tidak pernah menduga, bahwa nama itu kelak akan menjadi bagian terpenting dalam perjalanan hidupnya.
-
BINAR MENTARI SENJA
Penulis : Aira Purnamasari
Selengkapnya bisa dibaca di KBM App
https://read.kbm.id/book/detail/edf8d9f4-d91b-4b8f-9672-4ed41141ebfb







