IRT 38 tahun , pagi di sekolah siang di kebun

Hai lemonades🍋

Perkenal kan aku IRT 38th..punya anak 3

anak pertama cewek dah SMK kelas 11

yg ke 2 cowok kelas 3 SD

yang ke 3 cowok baru RA kelompok A

aktivitas ku di pagi hari

seperti biasa aku nyiapin sarapan , nyuci beres " rumah

lanjut nganter anak sekolah anak yg ke 3 pulang 10.30..

pulang istirahat kadang makan karena

sering nya ga ke buru sarapan

siang nya bis dzuhur aku ke kebun ngerawat

kebun bareng paksu pulang sore

dan sore nya.. aku pulanng jadi IRt lagi

beres" mandi

malamnya masak buat anak sama suami

cape lelah iya tapi harus tetap semangat dan hangat untuk

mereka yang ku cintai..

di usia 38 bukan alasan untuk berhenti tumbuh

karena slalu ada cinta dan doa..

semangat IRT hebat

dan fhoto di atas aku lagi di sekolah anak..

kalo kalian gimana ada yg sama ga seh...

setiap harinya gimana...

#irtawards2025

#irthebat

#KeseharianKu

#lemoncreators

#lemonirt

Kabupaten Tasikmalaya
2025/10/8 Diedit ke

... Baca selengkapnyaMenjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) di usia 38 tahun dengan rutinitas yang padat tentu membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang besar. Seperti yang dialami oleh seorang IRT yang aktif membagi waktu antara mengantar anak sekolah, merawat kebun bersama suami, serta menjalankan peran sebagai guru bagi anaknya yang memiliki kebutuhan khusus. Aktivitas pagi dimulai dengan menyiapkan sarapan dan mengurus rumah, lalu mengantar anak-anak ke sekolah, termasuk si kecil yang baru mulai RA kelompok A. Setelah itu, waktu santai digunakan untuk beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan siang hari di kebun. Berbagai tantangan dalam keseharian seorang IRT tidak hanya soal fisik, seperti cape dan lelah, tapi juga mental sebagai sosok penyemangat dan pelindung keluarga. Terlebih, ketika harus memainkan berbagai peran sekaligus, seperti menjadi guru di rumah untuk anak yang super aktif dan memiliki dunia sendiri. Disinilah pentingnya sumber kekuatan tambahan berupa cinta, doa, dan kesabaran untuk terus tumbuh dan berkembang. Pemanfaatan waktu di kebun bersama suami tidak hanya menjadi aktivitas fisik, tetapi juga sebagai terapi dan momen kebersamaan yang menyenangkan. Kebun menjadi tempat untuk merefresh pikiran setelah sibuk dengan urusan rumah tangga dan pengasuhan anak, sekaligus mengajarkan nilai penting tentang ketekunan dan kerja keras kepada anak-anak. Di kesehariannya, IRT ini juga menghadapi tugas sebagai guru pendamping anak, termasuk anak spesial yang membutuhkan pengajaran serta perhatian lebih. Hal ini menunjukkan betapa IRT bukan hanya sekedar peran domestik, tetapi juga pembentuk karakter dan pendamping utama anak dalam tumbuh kembang mereka. Pengalaman ini menjadi inspirasi bagi para IRT lainnya bahwa usia tidak membatasi kemampuan untuk terus belajar, bertumbuh, dan berprestasi. Dengan dukungan keluarga dan semangat yang kuat, IRT dapat menjalankan peran yang beragam demi kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya. Jadi, bagaimana dengan keseharian kalian? Apakah ada yang merasakan lika-liku dan tantangan serupa? Mari saling berbagi cerita dan semangat di komunitas #irthebat dan #KeseharianKu, agar kita semua terus termotivasi untuk menjadi IRT hebat yang penuh cinta dan doa.