pernah jadi guru honorer sekarang berhenti
lelah menjalani ini sudah 6 tahun mengabdi di SD ini
tetapi perjalanan ini sudah tidak ada harapan lagi
ahirnya berhenti
karena ingin mencari sesuap nasi.
mengabdi kalau tidak di anggap brati sudah tidak ada harapan lagi
tahun ini berhenti jadi guru dan di dapodik sudah berhenti
Menjadi guru honorer memang penuh tantangan, terutama jika sudah mengabdi selama bertahun-tahun tapi masih merasa kurang dihargai. Dari pengalaman saya sendiri dan beberapa teman guru honorer, sering kali kita menghadapi ketidakpastian, seperti kontrak yang tidak jelas, gaji yang terbatas, dan ketidakpastian masa depan. Ketika saya mendengar kisah guru honorer yang berhenti setelah 6 tahun mengabdi di SDN 3 Sukaraja Palas, saya sangat memahami perasaannya. Pekerjaan yang seharusnya membawa kebahagiaan dan kepuasan ternyata berujung pada rasa lelah dan putus asa. Hal ini diperparah ketika kontribusi kita tidak diakui secara layak, baik secara finansial maupun administratif, seperti tidak tercatat secara resmi di dapodik. Banyak guru honorer yang akhirnya memilih berhenti bukan karena tidak ingin mengajar, melainkan karena kebutuhan hidup yang mendesak, yakni mencari penghasilan yang lebih pasti untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dari sisi pribadi, saya menyarankan bagi para guru honorer untuk selalu berupaya meningkatkan kompetensi dan mencari peluang lain, baik dalam dunia pendidikan atau bidang lain yang dapat memberikan penghasilan lebih stabil. Selain itu, penting juga komunitas guru honorer saling mendukung dan memperjuangkan hak mereka agar mendapat perlakuan yang lebih adil. Kisah ini menjadi pengingat bahwa sistem pendidikan perlu memperhatikan kesejahteraan guru honorer agar mereka bisa terus berkontribusi tanpa harus merasa terabaikan. Semoga ke depannya ada solusi yang lebih baik bagi para guru honorer di Indonesia.




















































































