... Baca selengkapnyaKadang aku duduk di kafe yang interiornya nyaman, meja-kursi kayu, lampu gantung anyaman, dan jendela besar yang ngadep ke pemandangan hijau. Di momen kayak gitu, pikiran suka ngelantur: seandainya skenario hidup bisa kubaca lebih dulu, apa aku tetap memilih jalan yang sama?
Kalau ngomongin arti skenario kehidupan, menurutku itu kayak naskah besar yang isinya semua kejadian di hidup kita: siapa yang kita temui, kegagalan, keberhasilan, sampai hal-hal kecil yang kelihatannya sepele. Ada bagian yang manis, ada juga bab yang rasanya pengen dihapus aja. Tapi justru dari situ aku pelan-pelan paham, skenario hidup adalah rangkaian kejadian yang bikin kita jadi versi diri yang sekarang.
Dulu aku sering nanya, "Apa itu skenario hidup? Emang semuanya udah ditentuin?" Apalagi waktu lagi di fase capek: salah ambil keputusan, kecewa sama orang, atau ketika harapan nggak sesuai kenyataan. Di titik itu, aku ngerasa kalau aja aku bisa baca skenario hidupku di awal, aku bakal skip beberapa adegan yang nyakitin. Tapi setelah jalan beberapa waktu, aku sadar, adegan yang pengen aku hapus itu justru yang bikin aku belajar paling banyak.
Buatku, skenario hidup adalah campuran antara hal-hal yang di luar kendali dan pilihan yang tetap bisa kita ambil setiap hari. Kita memang nggak bisa milih lahir di keluarga mana, dapat ujian hidup apa, atau ketemu siapa duluan. Tapi kita masih punya ruang buat nulis cara kita merespons. Di situlah aku merasa, meski naskah besarnya mungkin sudah ada, dialog dan sikap kita tetap bisa diimprovisasi.
Kalau kamu lagi di fase mempertanyakan skenario kehidupanmu sendiri, mungkin kamu juga ngerasa iri sama hidup orang lain yang kelihatannya mulus. Aku pun begitu. Tapi setiap kali aku duduk di ruangan tenang, lihat pemandangan hijau dari balik jendela, aku coba tarik napas dan mikir: mungkin bab ini bukan tentang senang-senang, tapi tentang bertahan dan belajar.
Seandainya skenario hidup bisa kubaca, mungkin aku bakal punya rasa aman, tapi belum tentu punya kedewasaan yang sama. Rasa takut dan ragu justru muncul karena kita nggak tahu apa yang akan terjadi. Dari situlah keberanian pelan-pelan tumbuh. Jadi sekarang, aku mulai belajar berkata: aku nggak bisa baca skenario hidupku, tapi aku bisa memilih bagaimana cara melanjutkan halaman berikutnya.
Kalau kamu lagi berat, nggak apa-apa buat istirahat dulu, nangis, atau curhat. Tapi jangan lupa, kamu masih penulis bersama di skenario kehidupanmu sendiri. Mungkin hari ini kelabu, tapi siapa tahu beberapa halaman lagi, ada adegan yang penuh cahaya yang belum kamu lihat.