Tentang caption di video ini bolehkah aku bercerita?

Sebut saja namanya Tini (nama samaran)

Teman kerjaku dulu yang hobby nya menyakiti orang lain 😢 sampai2 banyak orang yang sakit hati dan menangis karna lidah dan sikapnya.😭

Bahkan orang2 yg mengenalnya lebih merasa aman menghindarinya.

Tapi tidak denganku,aku berusaha untuk berteman denganya, 🫩walau Dia jg sering banget melontarkan kata2 menyakitkan kepadaku "dengan dalih candaan" namun ada alasan aku harus sabar menghadapinya waktu itu. Ya Walau endingnya SAYA TIDAK BISA SABAR ,MUAK LALU MELAWAN JUGA.

Dulu aku sering sekali melihat dan mendengar langsung saat lidahnya menyakiti orang lain bahkan dengan sikap memuakan yang membuata orang2 menjauhinya, TAPI.. dia selalu bilang "salah aku apa? Perasaan aku ga punya salah, bodo amat ah orang ngejauhin juga, ga rugi," dan dia bisa playing victim.

Bahkan aku pernh ngasih tah kesalahan dia yg membuat orang lain menjauhinya,dia sempat berpikir tentang kesalahannya tapi dia bilang "setelah aku pikir2 yg thifa omongin kemaren. Aku ga salah2 amat krna bla bla bla"

Padahal yg aku sampein itu kesalahan dia yg fatal banget. Masih aja ga ngerasa salah. Hadeeuuuuhhh

aku terheran2 ko bisa ya dia se selow itu setelah menyakiti dan dijauhi orang2 🤣 ko bisaa????? Caranya gimana???ko bisa tenang2 aja? Sedangkan aku klo melontarkan kata yg kadang ga bermaksud menyakiti aja sering kepikiran "duh kayanya tadi aku salah ngmng deh, dia sakit hati ga ya? Dia kesinggung ga ya? "

Bisa bertahun2 kepikirannya walau sudah minta maaf.

Dan sekarang aku tau jawabannya setelah ada postingan yg dishare sahabatku dengan pesan yg intinya jika kita melakukan kesalahan dan kita masih punya perasaan bersalah . Beruntunglah tandanya hatimu belum mati. Alhamdulilah atuh kata aku teh berati hatiku blm metong.

Aku jadi teringat tentang si tini knp dia bisa seselow itu setiap kali melakukan kejahatan kedozliman dan fitnahan, oh... ternyata dan ternyata...mungkin bisa jadi hatinya sudah innalillahi.

2/2 Diedit ke

... Baca selengkapnyaBerdasarkan pengalaman pribadi dan refleksi mendalam, saya semakin menyadari betapa kompleksnya kondisi manusia dalam menghadapi kesalahan dan perasaan bersalah. Ada orang seperti Tini yang tampak tidak pernah merasa bersalah meski sering menyakiti orang lain dengan kata-kata atau sikapnya. Dari pengamatan saya, hal ini berkaitan dengan kondisi hati yang sudah 'mati' secara emosional dan spiritual. Di dalam sebuah gambar yang pernah saya lihat, tertulis bahwa seseorang yang sering melakukan kesalahan dan menyakiti orang lain namun tidak pernah merasa salah itu disebabkan hatinya sudah mati. Sebaliknya, orang yang masih merasa bersalah menandakan hatinya belum mati. Pernyataan ini seolah menjelaskan kenapa Tini begitu cuek dan tenang menghadapi konflik serta dijauhi orang-orang di sekitarnya. Saya pribadi seringkali memikirkan kata-kata yang sudah terucap, bertanya-tanya apakah itu menyakiti hati orang lain atau tidak, dan bahkan bisa terbayang bertahun-tahun setelahnya. Namun, Tini justru terlihat sangat selow dan acuh tak acuh, bahkan ketika sadar bahwa banyak orang menjauhinya. Sikap playing victim yang sering dia lakukan menambah kompleksitas hubungan sosialnya. Melalui pengalaman ini, saya belajar pentingnya kesehatan hati dan empati dalam membangun hubungan yang baik. Rasa bersalah bukan selalu hal yang negatif; justru ini tanda jiwa kita masih hidup dan punya tempat untuk memperbaiki diri. Menyadari kesalahan dan merasakan empati adalah kunci untuk pertumbuhan pribadi dan membangun lingkungan yang harmonis. Saya berharap cerita ini bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua untuk lebih sadar akan pentingnya menjaga hati agar tidak 'mati', supaya kita tidak mudah menyakiti orang lain tanpa sadar. Karena pada akhirnya, hati yang hiduplah yang membuat kita lebih bisa merasakan, memahami, dan memperbaiki kesalahan demi kebaikan bersama.

Cari ·
susunan box subwoofer