aku si pengangguran đ
Padahal, dulu tidak terbersit sama sekali untuk full time jadi IRT. cita-citaku dulu, working mom dengan segala kesibukan dan kecantikannya. MasyaaAllah, ternyata rencana Allah selalu terbaik đ¤
#CurcolanHati #ViralTerbaru #LifeBingo #RahasiaIRT #CurhatIRT
Jujur, pertama kali resign dan resmi jadi full time IRT, label yang paling sering nyangkut di kepala itu: âaku pengangguranâ. Padahal capeknya bebenah rumah, masak, urus suami, belum lagi beban mental karena ngerasa nggak âproduktifâ secara finansial. Apalagi lulusan S2 yang sebelumnya kerja di bank, ritme hidup berubah total. Di minggu-minggu awal, rasanya masih euforia. Bangun tanpa dikejar absen, bisa bikin sarapan pelan-pelan, quality time sama suami lebih banyak. Tapi masuk hari ke-30, yang muncul malah rasa jenuh dan bosan. Scroll media sosial, lihat teman-teman kariernya naik, gajinya nambah, foto pakai seragam kerja, meeting di gedung tinggi. Di situ suara di kepala makin kenceng: âkamu cuma IRT, nggak kerja, pengangguran.â Poin baliknya mulai datang waktu aku sadar: kalau terus-terusan bandingin hidup sekarang dengan versi âkantoranâ, ya aku bakal terus ngerasa kurang. Padahal aku resign juga bukan tanpa alasan. Salah satunya karena ingin menjauh dari riba dan hidup lebih tenang secara batin. Jadi aku mulai ubah sudut pandang: IRT bukan berarti berhenti berkembang, cuma jalur kariernya beda. Pelan-pelan aku cari kesibukan yang realistis dikerjakan dari rumah. Mulai dari bisnis kecil-kecilan, jualan online, sampai nekat belajar ngonten. Awalnya receh banget, nggak langsung dapet cuan besar. Tapi dari situ, aku punya alasan buat dandan lagi, belajar hal baru, dan ngerasa âhidupâ. Olahraga juga mulai aku rutinin, sekadar workout ringan atau jalan pagi. Ternyata badan lebih enak, mood juga naik. Tahun demi tahun, aku baru sadar, versi âpengangguranâ yang dulu aku takutkan ini justru nganterin ke versi terbaik diriku. Dari rumah, aku bisa punya penghasilan dua digit, badan lebih sehat, ibadah lebih kepegang, dan yang paling penting: hati lebih tenang. Bukan berarti nggak pernah jenuh lagi ya, tapi sekarang kalau rasa itu datang, aku sudah punya cara ngatasinnya. Kalau kamu juga lagi di fase merasa âaku pengangguranâ padahal jadi IRT, coba pelan-pelan berdamai. Valid kok kalau kamu kangen kantor atau gaji bulanan. Tapi jangan lupa lihat juga sisi lain: kamu lagi ada di fase membangun rumah tangga, membesarkan diri sendiri, dan mungkin suatu hari nanti malah nemu jalan rezeki yang nggak pernah kamu bayangin. Mulai dari hal kecil: tulis rutinitas harian biar nggak ngerasa hari-harinya kosong, coba satu kegiatan baru dalam seminggu (belajar skill baru, ikut kelas online, atau sekadar baca buku yang lama tertunda), dan jangan sungkan cari teman curhat sesama IRT. Kadang yang kita butuh cuma didengar dan diingatkan bahwa kita bukan pengangguran, kita hanya memilih kerja di âkantorâ bernama rumah. Kalau kamu punya kisah serupa, boleh banget dibagi. Siapa tahu dari saling cerita, kita sama-sama makin bangga dengan pilihan jadi IRT dan nggak minder lagi dengan label âpengangguranâ.









Lo ko pengangguran sih?