Udah ada pengasuh, masih aja pusing ketika di tempat dan waktu yang sama harus mikirin anak dan kerjaan. Luar biasa dehhh, hari pertamaku ini. Mana pinggulku lagi nyeri banget, pasca-pasang KB IUD😭😭😭
Apalagi waktu meeting sambil dengerin suara anak, rasanya pengen deketin buat ikutan main atau gendong pas dia nangis. Huhuhu. Maaf yaa, Nak, bunda gak bisa menghampirimu…
Ketika lihat sekeliling berantakan, ya ampunnn. Mau beresin gak sanggup, mau gak beresin juga gak sanggup. Begemana ini, Buibu??
Gongnya, ketika lihat aktivitas makan dan mainnya gak maksimal… jadi stres. Rasanya, kerjaan berantakan, urusan anak juga berantakan. Hiksssss!
Tapi, ini masih hari pertama. #Seandainya aku bikin plan di hari sebelumnya, aku gak akan sepusing ini. Bismillah buat besok AAAAAAAAAA.
Makanya, aku salut banget sama ibu yang kerja di rumah atau ibu-ibu pengusaha. Kok bisa sihhh?? Gimana caranya??? Spill dong buat aku yang cemen ini, Buibu🫠
... Baca selengkapnyaMenjadi seorang ibu yang bekerja dari rumah bukanlah hal yang mudah, terutama ketika kita harus mengatur waktu antara pekerjaan dan mengasuh anak secara bersamaan. Saat kerja sambil mendengar suara anak menangis atau bermain, seringkali muncul perasaan ingin berhenti bekerja sejenak untuk menemani mereka. Namun, realita menyatakan bahwa pekerjaan harus tetap berjalan. Kondisi ini dapat menimbulkan stres, apalagi jika lingkungan sekitar ikut berantakan dan terasa sulit untuk dibereskan.
Seperti yang dirasakan banyak ibu remote worker, termasuk yang juga mengalami nyeri fisik pasca-pasang KB IUD, tantangan ini jadi semakin berat. Namun, ada beberapa cara praktis yang dapat membantu menciptakan keseimbangan antara urusan anak dan pekerjaan.
Pertama, buatlah perencanaan harian yang realistis sebelum memulai hari kerja. Dengan adanya plan, kita bisa memprioritaskan pekerjaan penting dan juga waktu untuk anak secara bergantian. Misalnya, menyisihkan waktu khusus saat anak aktif bermain dengan pengasuh, sehingga ibu bisa fokus meeting tanpa terganggu.
Kedua, manfaatkan teknologi agar proses kerja lebih efektif. Aplikasi kolaborasi dan manajemen waktu bisa membantu ibu dalam mengorganisasi tugas tanpa harus stres berlebihan.
Ketiga, jangan ragu untuk meminta bantuan dan delegasi tugas rumah tangga saat memungkinkan. Menerima pertolongan dari keluarga atau pengasuh bisa meringankan beban dan mengurangi rasa bersalah ketika harus fokus bekerja.
Keempat, penting untuk memberi waktu istirahat bagi diri sendiri. Meski pekerjaan dan urusan anak menumpuk, sejenak relaksasi bisa menjadi penyegar agar ibu tidak mudah stres dan lelah.
Terakhir, komunikasi terbuka dengan atasan dan rekan kerja terkait kondisi sebagai ibu yang bekerja dari rumah dapat memberikan pengertian dan fleksibilitas dalam menjalankan pekerjaan.
Dengan kesungguhan dan pengelolaan yang tepat, ibu remote worker dapat menjalankan perannya secara optimal tanpa mengabaikan kesehatan fisik maupun emosional. Pesan dari pengalaman ini adalah kita tidak sendirian, banyak ibu lain yang juga menghadapi tantangan serupa dan bersama-sama bisa saling mendukung.
semangat kakak, itulah realitanya tpi herannya ada juga ibu yang ngurus anak masih bisa rendahin irt lain