Iya sih, teknologi transaksi digital makin berkembang. Tapi, di tempat di negara semaju Singapura ini, prinsip yang masih dipegang teguh adalah cash is king💸

Kenapa? Simak di sini!

Kalau kamu? Sering masih pakai cash buat transaksi nggak?

#Transfez

.

.

#singapore #singapura #cash #economy #finance #learnfinance #financenews #news #newsflash #ekonomi #beritatiktok #wowfakta #money

2025/8/4 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDari pengalaman saya mengamati lingkungan di Singapura, meski teknologi pembayaran digital tumbuh pesat, banyak orang masih merasa lebih nyaman menggunakan uang tunai. Hal ini terutama terlihat di area pelabuhan, di mana para pelaut, ekspatriat, dan pelaku bisnis yang sering melakukan transaksi internasional memilih menggunakan uang tunai untuk menukar mata uang asing mereka. Menurut Christina Ng, seorang guru asal Singapura, kepercayaan terhadap uang tunai dan kemudahan penggunaannya membuat orang masih mengandalkan metode ini dalam kehidupan sehari-hari. Uang tunai dianggap praktis saat melakukan transaksi langsung tanpa harus bergantung pada koneksi internet atau aplikasi digital yang kadang mengalami gangguan. Selain itu, budaya dan kebiasaan masyarakat Singapura turut memperkuat posisi uang tunai. Banyak pula toko kecil dan pedagang kaki lima yang hanya menerima pembayaran tunai, sehingga meskipun teknologi pembayaran digital tersedia, mereka tetap memilih cash. Singapura sebagai pusat keuangan global juga memiliki kebutuhan unik akan uang tunai bagi mereka yang sering berpindah negara, seperti pelaut dari berbagai negara yang melewati pelabuhan tersebut. Oleh karena itu, keberadaan uang tunai menjadi esensial untuk menunjang aktivitas ekonomi mereka. Dengan kondisi tersebut, meski perkembangan transaksi digital sangat pesat, uang tunai tetap menjadi solusi handal karena alasan kepraktisan, kepercayaan, dan kebiasaan budaya yang kuat di masyarakat Singapura.