petik labu kuning dikebun belakang rumah #TanpaEdit #petanimilenial
Aku nanam labu kuning ini di kebun belakang rumah, jadi benar-benar kerasa bedanya panen sendiri dibanding beli di pasar. Tanam dari biji, lihat merambat, keluar bunga, sampai akhirnya jadi labu kuning besar yang kulitnya krem dan tangkainya hijau, rasanya puas banget. Banyak yang penasaran soal labu kuning besar ini, terutama buat masak: 100 gram labu kuning itu kira-kira berapa potong sih? Dari pengalamanku, kalau labunya besar dan dagingnya tebal, 100 gram biasanya dapat sekitar 3–4 potong ukuran sedang (sekitar setebal 1 cm, potongan kotak untuk tumis atau sayur bening). Kalau potongannya agak tipis atau labunya lebih muda (daging lebih berair), bisa dapat 4–5 potong kecil. Jadi tiap kali mau masak, aku biasa timbang dulu satu potong, baru kira-kira sisanya. Di kebun labu kuning belakang rumah, aku pilih lokasi yang kena matahari pagi dan siang, karena labu kuning suka tempat yang hangat dan agak luas buat merambat. Tanahnya aku campur kompos dari sisa dapur biar lebih subur. Ternyata, asal rutin siram dan buang gulma, labu kuning ini nggak terlalu rewel. Tantangannya paling di musim hujan, kadang daun mudah kena jamur, jadi aku rajin pangkas daun yang rusak. Labu kuning besar yang kupetik di foto itu beratnya bisa sampai beberapa kilo. Kalau sudah panen satu buah, biasanya aku nggak habiskan sekaligus. Triknya, labu kuning kupotong beberapa bagian, lalu sebagian disimpan di kulkas dalam wadah tertutup. Untuk stok lebih lama, bisa juga dipotong dadu, lalu disimpan di freezer. Waktu mau masak, tinggal ambil sesuai kebutuhan, misalnya 100 gram buat bubur bayi, sup krim, atau kolak. Punya kebun labu kuning sendiri juga enak buat mengontrol kualitas. Aku nggak pakai pestisida kimia, jadi lebih tenang saat bikin MPASI atau camilan sehat. Selain itu, labu kuning dari kebun sendiri biasanya lebih manis dan lembut. Kalau kamu punya sedikit lahan kosong di belakang rumah, coba deh tanam 1–2 rumpun labu kuning. Nggak perlu kebun luas, yang penting ada tempat untuk sulurnya merambat. Menurutku, kebun labu kuning di belakang rumah ini bikin kegiatan harian lebih seru. Tiap pagi aku keliling cek daun, bunga, sampai hitung-hitung kira-kira kapan bisa panen. Saat akhirnya bisa memegang labu kuning besar dengan latar belakang hijau kebun sendiri, rasanya semua capek keurus kebun langsung terbayar. Dan yang paling menyenangkan: setiap kali masak, aku tinggal ambil dari kebun atau stok di dapur, lalu ukur 100 gram labu kuning sesuai resep tanpa harus bolak-balik ke pasar.
