... Baca selengkapnyaKadang orang bilang, seiring waktu rindu itu bakal hilang. Tapi setelah ibu nggak ada, aku justru merasa rindu itu cuma berubah bentuk. Dari yang dulu bisa kupeluk dan kucium, sekarang jadi doa pelan setiap kali sujud dan setiap kali aku ingat wajah ibu.
Kalau kamu lagi cari contoh surat pribadi dengan tema rindu kepada orang tua, jujur aku nggak punya format baku. Yang kulakukan cuma menulis sejujur-jujurnya dari hati. Misalnya, aku sering mulai dengan "Ibu sayang" atau "Mama, apa kabar di sana?" lalu kulanjutkan dengan cerita hari-hariku: aku lagi belajar apa, lagi sedih soal apa, dan hal-hal kecil yang dulu selalu jadi bahan obrolan kami. Rasanya kayak ngobrol, hanya saja sekarang lewat tulisan.
Untuk kamu yang kangen almarhum ibu atau mama, sesimpel menulis: "Bu, aku rindu" itu sudah cukup. Nggak perlu indah, yang penting tulus. Kadang aku selipkan juga doa: semoga ibu tenang di Surga Allah, diampuni segala salahnya, dilapangkan kuburnya, dan disayang Allah lebih dari kami menyayanginya. Menulis begitu aja sudah bikin dada agak lega.
Aku juga suka bikin caption rindu orang yang sudah meninggal, entah di catatan pribadi, di galeri foto, atau di media sosial. Contohnya: "Rinduku nggak lagi minta dipeluk, cuma minta didengar dalam doa." atau "Aku nggak bisa lagi memanggilmu, tapi namamu masih jadi tempat pulang dalam setiap doa." Kata-kata seperti ini mungkin sederhana, tapi mewakili perasaan yang susah dijelasin panjang-panjang.
Kalau kamu punya foto atau gambar kangen almarhum ibu, kamu bisa tulis sedikit puisi tentang ibu di sana. Misalnya: "Kasihmu nggak berhenti hidup di hariku" atau "Tentang rindu yang tak pernah hilang, dan kasih yang tak pernah berhenti" seperti yang kutulis di suratku. Hiasan kecil seperti bunga kering atau warna lembut di sekeliling tulisan juga bisa bikin suasana lebih hangat dan syahdu.
Ada juga momen saat aku cuma bisa bilang "aku rindu" dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Arab: "اشتقت إليك يا أمي" (isytaktu ilaiki ya ummi) yang artinya "Aku rindu padamu, wahai ibu." Kadang aku tulis itu di akhir surat, seolah mengirim salam sampai ke Surga.
Buat kamu yang sedang belajar ikhlas, ingat kalau rasa sakit kehilangan pelan-pelan bisa berubah jadi pengingat untuk hidup baik. Di akhir setiap surat untuk ibu, aku selalu menulis semacam janji kecil: akan jaga diri, akan jaga nama baik keluarga, akan berusaha jadi anak yang ibu banggakan meski sekarang ibu cuma bisa melihat dari jauh. Dengan begitu, rindu ke ibu bukan cuma bikin sedih, tapi juga jadi energi untuk terus melangkah.
Kalau matamu berkaca-kaca saat menulis surat untuk ibu, itu nggak apa-apa. Surat untuk ibu yang bikin nangis justru biasanya yang paling jujur. Biarkan air mata mengalir, lalu peluk diri sendiri dan ucapkan dalam hati: "Bu, aku masih di sini, lagi berusaha sebaik mungkin. Doakan aku dari Surga, ya."