Kata dia debat itu adalah salah satu metode dalam berdakwah
✌𝓑𝓪𝓷𝓽𝓪𝓱𝓪𝓷✌--> Orang ini sedang melakukan 𝘁𝗮𝗸𝘁𝗶𝗸 "𝘀𝗲𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗹𝗶𝗹". Dia mengambil ayat tentang perintah debat, tapi menyembunyikan syarat-syaratnya, sekaligus memelintir istilah 𝘈𝘭-𝘔𝘪𝘳𝘢𝘢’ agar dia punya pembenaran untuk terus bertikai di kolom komentar.
Berikut bantahan sistematis dari kami untuk membungkam logika "hobi debat"-nya:
Tapi sebelumnya, jangan lupa nanti setelah selesai baca, segarkan kembali pengetahuan kita tentang kesyirikan dari video berikut, agar bisa lebih pandai membedakan mana Kyiai benaran dan mana yang dukun berkamuflase: https://youtu.be/9omxwBZyUso
⓵ 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗼𝗻𝗴𝗸𝗮𝗿 𝗦𝘆𝗮𝗿𝗮𝘁 "𝗝𝗶𝗱𝗮𝗹" 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗦 𝘂𝗿𝗮𝘁 𝗔𝗻-𝗡𝗮𝗵𝗹: 125
Dia membawa-bawa ayat 125 surat An-Nahl, tapi dia lupa (atau sengaja lupa) bagian akhirnya: "...𝘸𝘢 𝘫𝘢𝘢𝘥𝘪𝘭𝘩𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘭𝘭𝘢𝘵𝘪𝘪 𝘩𝘪𝘺𝘢 𝘢𝘩𝘴𝘢𝘯" (...𝗱𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗻𝘁𝗮𝗵𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗰𝗮𝗿𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗮𝗶𝗸).
--- 𝗕𝗮𝗻𝘁𝗮𝗵𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮: Para ulama menjelaskan bahwa 𝘑𝘪𝘥𝘢𝘭 yang diperintahkan adalah untuk 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻, bukan untuk menang-menangan atau menjatuhkan lawan.
..
--- Debat yang diperbolehkan adalah debat ilmiah di majelis ilmu, bukan "adu otot" kata-kata di kolom komentar media sosial yang penuh caci maki. Jika debat justru menimbulkan permusuhan dan menjauhkan orang dari hidayah, maka ia bukan lagi dakwah, tapi 𝗳𝗶𝘁𝗻𝗮𝗵.
⓶ 𝗠𝗲𝗹𝘂𝗿𝘂𝘀𝗸𝗮𝗻 𝗠𝗮𝗸𝗻𝗮 " 𝗔𝗹-𝗠𝗶𝗿𝗮𝗮’ "
Dia mengejek "kaum sono" (Salafi) karena dianggap salah mengartikan 𝘈𝘭-𝘔𝘪𝘳𝘢𝘢’. Padahal, justru dia yang gagal paham.
--- 𝗙𝗮𝗸𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮: 𝘈𝘭-𝘔𝘪𝘳𝘢𝘢’ dalam lisan Arab dan istilah syariat adalah debat yang tujuannya hanya untuk 𝗺𝗲𝗿𝗮𝗴𝘂𝗸𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿𝗮𝗻 atau 𝗽𝗮𝗺𝗲𝗿 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗻𝗱𝗮𝗶𝗮𝗻.
..
--- Nabi ﷺ bersabda: "𝘈𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘮𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪𝘳 𝘴𝘶𝘳𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢 𝘯𝘨 𝙢𝙚𝙣𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙗𝙖𝙩 (𝘼𝙡-𝙈𝙞𝙧𝙖𝙖’) 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳." (HR. Abu Dawud).
..
--- Kalau dia merasa berada di pihak yang benar tapi tetap ngotot debat di medsos, dia justru sedang menentang anjuran Nabi ﷺ untuk mendapatkan rumah di surga.
⓷ 𝗔𝘁𝘀𝗮𝗿 𝗦𝗮𝗹𝗮𝗳 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗟𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗗𝗲𝗯𝗮𝘁 𝗞𝘂𝘀𝗶𝗿
Katakan padanya bahwa para Imam Madzhab (yang dia ini mengaku paling bermadzhab) justru sangat membenci debat dalam urusan agama (Ilmu Kalam/Jidal).
--- 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗠𝗮𝗹𝗶𝗸 berkata: "𝘋𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘣𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘳𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘤𝘶 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮."
..
--- 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗦𝘆𝗮𝗳𝗶'𝗶 berkata: "𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘥𝘪𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩." (Bandingkan dengan niat orang ini yang berkomentar).
𝗠𝗮𝗸𝗮 𝗸𝗮𝗺𝗶 𝗸𝗮𝘁𝗮𝗸𝗮𝗻:
Sepertinya Anda perlu belajar lebih dalam tentang 𝗔𝗱𝗮𝗯𝘂𝗻-𝗡𝗶𝘇𝗮' (Adab berselisih).
Surat An-Nahl: 125 itu memerintahkan debat dengan cara yang '𝗔𝗵𝘀𝗮𝗻' (𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗯𝗮𝗶𝗸). Jika debat Anda isinya hanya mencari-cari kesalahan, menyindir, dan merasa paling pintar, maka itu bukan perintah Allah, tapi dorongan nafsu.
Anda membedakan 𝘑𝘪𝘥𝘢𝘭 dengan 𝘈𝘭-𝘔𝘪𝘳𝘢𝘢’ seolah-olah Anda punya lisensi untuk terus berdebat. Ingat, Nabi ﷺ menjanjikan rumah di surga bagi yang 𝗺𝗲𝗻𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮𝗹𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗯𝗮𝘁 𝗺𝗲𝘀𝗸𝗶𝗽𝘂𝗻 𝗱𝗶𝗮 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿. Kalau Anda merasa benar tapi tetap hobi adu urat syaraf di medsos, Anda sedang mengabaikan jaminan Nabi ﷺ tersebut.
Dakwah itu tujuannya agar orang dapat hidayah, bukan agar orang mengakui kehebatan retorika Anda. Para ulama Salaf seperti Imam Malik dan Imam Syafi'i sangat menjauhi debat kusir karena mereka tahu itu hanya mengeraskan hati.
Kalau memang niatnya mencari kebenaran, silakan baca kitab para ulama dengan tenang. Tapi kalau niatnya cuma mau 'jidal' di kolom komentar, maaf, kami lebih memilih mengikuti sunnah Nabi ﷺ untuk meninggalkan debat yang tidak bermanfaat. Barakallahu fiik.
𝗧𝗶𝗽𝘀 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗜𝗸𝗵𝘄𝗮𝗵:
Orang tipe ini biasanya akan membalas lagi karena dia merasa "perintah Allah untuk debat" adalah senjatanya. Cukup jawab sekali dengan tegas seperti di atas, lalu 𝗷𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗶𝗯𝗮𝗹𝗮𝘀 𝗹𝗮𝗴𝗶. Dengan berhenti membalas, Anda in syaa Allah secara otomatis menjalankan hadits Nabi ﷺ tentang meninggalkan debat, dan itu akan membuatnya makin "kepanasan" karena tidak punya lawan bicara. Wallahu a'lam..




















