Maaf Lemond8!

2/21 Diedit ke

... Baca selengkapnyaJujur, keputusan buat berhenti ngonten di Lemond8 itu nggak aku ambil secara tiba-tiba. Aku mulai pakai aplikasi ini sekitar awal 2023, pas lagi semangat-semangatnya belajar bikin konten tentang Ramadhan, ngurus rumah, dan sharing momen berharga sehari-hari. Awalnya, Lemond8 terasa kayak rumah kedua. Fitur-fiturnya gampang banget dipakai, template-nya lucu, dan komunitasnya juga hangat. Setiap upload konten #RamadhanGuide, aku seneng banget kalau ada yang komen bilang tipsnya dipakai buat sahur atau beres-beres rumah sebelum lebaran. Dari situ aku merasa, "Oh, ternyata konten sederhana tentang ngurus rumah dan momen kecil bareng keluarga bisa berarti buat orang lain." Tapi makin ke sini, aku mulai merasa capek secara mental. Algoritma Lemond8 bikin aku sering kepikiran angka: views, likes, dan expose. Apalagi waktu aku lihat kata kunci "lemond8" sering muncul di pencarian, rasanya ada tekanan buat selalu bikin konten yang "layak tampil" di platform, padahal aku cuma pengguna biasa yang pengen sharing pengalaman. Selain itu, aku sempat ngerasa bingung sama arah kontenku sendiri. Di satu sisi pengen terus sharing soal Ramadhan, rutinitas ngurus rumah, dan momen berharga bareng keluarga. Di sisi lain, aku juga punya kehidupan offline yang harus diurus: kerjaan, keluarga, dan waktu istirahat. Lama-lama, buka Lemond8 jadi bukan lagi tempat healing, tapi kayak kewajiban yang kalau nggak dilakuin bikin rasa bersalah muncul. Makanya, di momen ini aku berani bilang: "Aku berhenti & MAAF LEMOND8." Bukan karena aplikasinya jelek, tapi karena aku sedang butuh jeda. Aku pengen hubungan aku dengan dunia digital tetap sehat. Aku nggak mau sekadar ngejar trending atau keyword "lemond8" di Google tanpa mikirin kesehatan mental sendiri. Aku juga belajar satu hal penting dari pengalaman pakai Lemond8: jangan takut buat rehat. Konten, algoritma, dan angka-angka itu akan terus jalan, tapi kita sebagai pengguna punya hak penuh buat menentukan kapan mau aktif dan kapan mau berhenti. Kalau kamu lagi ngerasa burnout juga, mungkin bisa coba evaluasi: apakah aplikasi ini masih bikin kamu happy, atau justru bikin kamu makin tertekan? Walau berhenti ngonten di Lemond8, aku tetap bersyukur pernah jadi bagian dari komunitasnya. Banyak ide tentang Ramadhan dan cara ngurus rumah yang aku pelajari dari creator lain, dan beberapa momen berharga yang sempat aku abadikan di sana akan tetap jadi kenangan. Untuk sekarang, aku memilih fokus ke diri sendiri dulu. Siapa tahu suatu hari nanti, kalau keadaan sudah lebih stabil, aku bakal balik lagi dengan cara yang lebih santai dan tanpa tekanan. Tapi kalaupun nggak balik, aku nggak menyesal pernah kenal Lemond8, karena dari sini aku belajar banyak tentang konsistensi, kreativitas, dan pentingnya jaga kesehatan mental di tengah dunia serba digital.