Rencana kunjungan nakdis di asrama ke Padang Panjang sampai di pasa Sumani belok jalan ke Saniabaka. Sudah ada rambu roda 6 tidak bisa melewati ruas jalan, alasan suami :"iko roda 2 bisa". Sampai di Muaro Pinggai air deras berlumpur dengan suasana masyarakat membersihkan jalanan dari lumpur tanah. Aparat siaga bencana ada TNI dan POLRI. Sampai di jembatan Paninggahan distop masyarakat, bertemu pak Edi Sentot (guru SMA4 Solok) :"awak imbau ibuk tadi". Ndak bisa ibu lanjut perjalanan di malalo banyak jalan rusak dan jembatan putus. Sekilat khusus ada warga mengendarai motor melewati jembatan. Tentara siaga memberi arahan boleh motor lewat tp satu satu bergantian. Lewat lagi sampai lah di jembatan putus , masyarakat tidak membenarkan motor melewatinya. Air sungai sangat deras. Suami memang ingin lewat malalo ke Padang Panjang tapi tak bisa lagi diteruakan. Teringat chat digrup sekolah. Warga memberi arahan rumah siska dekat lagi , ditanjakan . Qodorullah yang ditunggu teman tim medis yang datang teman sekolah. "Ika ka bao anak barubek . Kok tau uni ka mari , banyak list ubek". Qodorullah memang tanpa rencana.
Perjalanan menuju Padang Panjang memang penuh tantangan terutama saat melewati ruas jalan yang rusak dan jembatan yang putus, seperti yang dialami oleh rombongan ini. Kondisi jalan berlumpur di Muaro Pinggai dan jembatan Paninggahan yang tidak bisa dilalui dengan aman menjadi penghalang besar. Masyarakat setempat dan aparat TNI serta POLRI secara sigap turun tangan membantu membersihkan jalan dan mengatur lalu lintas dengan sistem satu per satu untuk kendaraan roda dua. Keberadaan rambu lalu lintas yang melarang kendaraan roda enam melewati ruas jalan tertentu menunjukkan perhatian terhadap keselamatan bersama, meskipun masih ada anggapan beberapa orang bahwa kendaraan roda dua bisa lewat. Namun, kondisi jembatan yang sudah putus dan arus sungai yang deras membuat warga setempat sangat waspada dan menolak kendaraan melintas demi menghindari risiko kecelakaan. Solidaritas masyarakat yang bersama aparat mengatur lalu lintas ini memperlihatkan betapa pentingnya peran komunitas dalam menghadapi bencana dan kondisi darurat. Momen pertemuan dengan tokoh masyarakat seperti guru SMA4 Solok juga menegaskan keterlibatan berbagai pihak dalam memastikan keselamatan perjalanan. Selain itu, pendekatan spontan seperti mencari rumah warga terdekat sebagai lokasi tujuan alternatif juga menunjukkan adaptasi dan kekompakan dalam situasi yang tidak terduga. Hal ini mengingatkan kita bahwa rencana perjalanan ke daerah dengan medan sulit harus selalu mempertimbangkan kondisi terkini dan arahan dari warga serta aparat yang paling memahami situasi di lapangan. Dukungan teman-teman medis dan komunikasi melalui grup sekolah juga sangat membantu dalam koordinasi dan keamanan perjalanan. Kisah ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana perjalanan di daerah dengan infrastruktur terbatas memerlukan kesiapan, kesabaran, dan kolaborasi agar selamat sampai tujuan.

























