Adeeem....🥰
Sering kali, dalam hidup, kita menghadapi berbagai situasi yang membuat perasaan kita campur aduk, antara kecewa, lelah, dan merasa muak. Mengalami perasaan "muak" sampai akhirnya memilih untuk diam dan tidak terlalu ambil pusing, saya rasa adalah bentuk perlindungan diri yang sering saya lakukan. Misalnya, dalam menghadapi konflik yang berulang atau situasi yang tidak bisa saya ubah, diam menjadi cara saya menjaga ketenangan pikiran. Dengan tidak bereaksi berlebihan, saya dapat fokus mengelola emosi dan energi saya agar tidak terbuang sia-sia. Kata-kata seperti "muak" yang sering saya ucapkan sebenarnya mewakili rasa jenuh dan rasa ingin menjaga jarak dari hal-hal yang tidak membawa kebaikan. Pendekatan ‘diam dan bodo amat’ ini bukan berarti acuh tak acuh atau pasif, melainkan lebih kepada selektif dalam menyikapi persoalan yang perlu dan yang tidak penting untuk diperhatikan. Ini juga membantu saya menjaga kesehatan mental dan emosional agar tetap stabil. Namun, tentu penting juga untuk tetap meluangkan waktu mengekspresikan perasaan, agar tidak menumpuk dan akhirnya memicu stres. Mencari teman curhat yang dipercaya atau menulis jurnal pribadi menjadi cara lain saya untuk mengelola perasaan muak tersebut. Dengan berbagi pengalaman ini, saya berharap pembaca yang merasa serupa dapat menemukan pemahaman bahwa memilih diam terkadang adalah bentuk perawatan diri yang perlu, bukan bentuk menyerah. Dan lewat pengelolaan emosi yang tepat, kita bisa tetap produktif dan menjaga hubungan baik tanpa terbebani perasaan negatif berlebihan.