The 6.7 magnitude earthquake in Palu, Sulawesi, caused damage to the Untad campus, and seawater along the coast has begun to recede.
Be careful, as the tsunami that struck Palu has returned. June 16, 2026
---
Gempa 6.7 di palu sulawesi menyebabkan kampus untad berantakan dan air laut di pesisir palu juga sudah mulai surut kembali.
berhati-hatilah mengingat sunami yang pernah menghantam palu kembali menggulung palu kembali
16 juni 2026
Sebagai seseorang yang pernah mengalami langsung dampak gempa di Palu, saya memahami betapa pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat setelah kejadian seperti ini. Gempa berkekuatan 6.7 SR memang bisa menimbulkan kerusakan yang cukup parah pada bangunan, termasuk di lingkungan kampus seperti Untad. Selain itu, fenomena air laut yang mulai surut di pesisir Palu adalah tanda klasik yang harus diwaspadai karena sering kali didahului oleh ancaman tsunami. Mengalami sendiri gelombang tsunami sebelumnya, saya selalu menekankan pentingnya mengikuti arahan dari BMKG dan instansi terkait. Informasi real-time mengenai lokasi episentrum gempa, kedalaman, serta potensi tsunami sangat membantu masyarakat dalam mengambil keputusan cepat, seperti evakuasi ke tempat yang lebih tinggi dan aman. Sebagai bagian dari komunitas Palu, kita juga harus saling mengingatkan dan mendukung satu sama lain dalam proses pemulihan pascagempa. Kerusakan infrastruktur, khususnya di tempat pendidikan seperti kampus Untad, memengaruhi aktivitas belajar dan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perhatian dan bantuan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar proses perbaikan berjalan lancar. Selain itu, mengenali tanda-tanda alam yang mengindikasikan kemungkinan tsunami, seperti surutnya air laut secara tiba-tiba, sangat esensial untuk keselamatan. Masyarakat harus segera menjauhi garis pantai dan mengungsi ke tempat aman saat gejala tersebut muncul. Pengalaman saya membuktikan bahwa kesigapan dan pengetahuan tentang hal ini dapat menyelamatkan nyawa. Kejadian gempa di Palu ini juga menjadi pengingat pentingnya edukasi mitigasi bencana secara terus-menerus. Masyarakat harus diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan menghadapi bencana alam agar dapat bertindak tepat saat terjadi kondisi darurat. Dengan demikian, dampak bencana dapat diminimalisir dan proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat.














