Nak, kamu spesial dengan cara mu
Hi, lemoners 🍋
Diusia ke 5 penihakan, ketika sudah mulai pasrah untuk memiliki buah hati, kami mendapat anugrah... alhamdulillah.
Tapi di 2th usia anakku ada yang berbeda, di saat teman2 sebaya nya sudah bisa mulai bicara anak ku terlambat berbicara ( speech delay), bahkan menghindari tatapan mata,aktif, dan asik sendiri.
Setelah serangkaian assement, anak ku di perkirakan SPD ( sensory processing disorder ), hal yg barubaku dengar dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. #Jujursaja dunia ku rasanya runtuh saat itu. Dengan semangat agar anak bisa membaik dan support dari berbagai pihak akhirnya saya harus berdamai dan bangkit demi dia.
Mulailah saya menjalani hari- hari dengan berjuang :
1. Mencari sekolah yang support sensorik dan motorik serta linkungan yang baik dan guru-guru yang bisa mendukung keadaanya.
2 Mengantar untuk terapi okupasi dan wicara
3. Menyusun kegiatan di rumah yang bisa membantu dia belajar fokus
4. Berusaha menghindarkan dari makanan mengandung banyak gula dan tepung
Sekarang sudah 4th, sudah menjalani perjuangan ini selama 2th, dan alhamdulillah sudah mulai ada perkembangan, walau terkadang masih belum fokus, tantrum, dan belum banyak komunikasi 2 arah.
Dari dia saya belajar bahwa anak adalah titipan, selebihnya bukan dia yang minta dilahirkan untuk kita, tapi kita yang mengharapkan dia, maka hargai keberadaanya bagaimanapun dia, usahakan yang terbaik semampu kita, upayakan kesabaran dengan menjaga kewarasan diri tanpa mengabaikanya.
Apa bunda ada yang mengalami seperti saya ? boleh share dikomen untuk saling support 🙏
Ketika menghadapi anak dengan Sensory Processing Disorder (SPD), kondisi ini sering kali menjadi tantangan yang berat bagi orang tua. SPD adalah gangguan pemrosesan sensorik di mana otak kesulitan menerima dan merespons informasi dari indera. Anak dengan SPD mungkin tampak menghindari kontak mata, sulit berkomunikasi, mudah terganggu oleh suara atau sentuhan, dan memiliki kesulitan dalam berkonsentrasi seperti yang diceritakan dalam kisah ini. Sebagai orang tua, penting untuk memahami bahwa setiap anak memiliki keunikan cara belajar dan berinteraksi dengan lingkungan. Anak dengan SPD membutuhkan lingkungan yang sensitif terhadap kebutuhan sensoriknya, seperti penggunaan ruang kelas yang tenang, pengaturan jadwal aktivitas yang stabil, dan guru atau terapis yang terlatih dalam membantu mereka. Mencari sekolah atau tempat terapi yang mendukung adalah langkah krusial. Sekolah harus mampu menyediakan program yang mendukung pengembangan sensorik dan motorik anak serta memberikan pendampingan yang sesuai. Terapi okupasi dan terapi wicara menjadi bagian penting dalam membantu anak meningkatkan kemampuan motorik halus, fokus, serta kemampuan komunikasi dua arah. Selain itu, pola makan juga patut diperhatikan, menghindari konsumsi makanan yang tinggi gula dan tepung dapat membantu mengurangi gejala hiperaktif atau tantrum yang kadang muncul. Di rumah, menyusun rutinitas kegiatan yang membantu anak belajar fokus dan beradaptasi secara bertahap sangat dianjurkan. Perjalanan ini bukanlah mudah, tapi yang terpenting adalah kesabaran dan menjaga kesehatan mental orang tua agar tetap kuat mendukung proses tumbuh kembang anak. Menghargai dan menerima kondisi anak sebagai titipan yang istimewa adalah kunci untuk menjadi support system terbaik bagi mereka. Bagi para orang tua yang sedang menghadapi tantangan serupa, penting untuk berbagi pengalaman serta saling memberi dukungan. Komunitas dan forum seperti #TentangKehidupan dan #BahasMental bisa menjadi tempat untuk bertukar cerita dan mendapatkan inspirasi dalam menjalani perjalanan ini. Ingatlah, setiap anak spesial dengan caranya masing-masing dan dengan cinta serta dukungan yang tepat, mereka bisa berkembang dengan baik.

semangat selalu kak.. 🥰🤩