2 Anak Cowok, Menikah, Tapi Masih Jadi Beban Ortu?

Hai, Lemonades!

#TentangKehidupan pelajaran yang aku dapat dari ngobrol nggak sengaja hari ini sama seorang ibu tiga anak, yaitu dua cowok dan si bungsu cewek. Singkat cerita, ibu ini selalu cerita tentang kedua anak cowoknya yang sama-sama sudah berumah tangga .

#PerasaanKu awalnya B aja menyimak ceritanya. Kok lama-lama aku jadi mikir, "Ini serius dua anak cowoknya seenggak berguna itu dan cuma jadi beban orang tua meski udah nikah?" Sumpah ya, kalau itu sodaraku, keknya aku udah kasih tendangan Tsubasa.

Anak pertama, nggak ada kerjaan. Dulu udah keterima kerja di Surabaya, tapi nggak dilanjutin gegera ngebet nikah sama bininya yang sekarang. Alhasil, ya pengangguran, tapi nikah sama pujaan hati. Karena rasa nggak tega sebagaimana semestinya seorang ibu, dibukain toko kelontong dong si anak ini. Sialnya, bukan bersyukur dan usaha betul-betul itu toko biar gede kek mana, malah tiap barang abis dan mau kulakan, masih nodong ke ibunya. Lagi, ibunya selalu yang danain buat kulakan meski hasilnya nggak tahu ke mana. Kek itu modal gak pernah dia puter dan maunya modal baru terus.

Denger cerita anak pertama aja aku udah pengin nonjok mukanya banget. Ealah, anak kedua nggak kalah heboh. Juga nggak punya kerjaan alias pengangguran, minta dibukain bengkel dan jual bensin. Lagi ya, Tulung catat! SEMUA MODAL buka bengkel nih dari si ibu. Dari beli mesin kompresor sampai kulakan bensin. Ini bininya juga kek bodo amat gitu. Beli lemari Segede gaban, tapi utang. Dan minta si ibu (mertuanya) ini ngelunasin karena suaminya (anak si ibu) nggak ada duwit. MasyaAllah tabarakallah banget, kan?

Apakah mereka sebenarnya berasal dari keluarga kaya yang nggak bisa idup kekurangan? Nggak juga, ya. Si ibu ini suaminya cuma pegawai PT. KAI yang baru aja pensiun. Ya pensiunan sewajarnya. Nggak kaya, tapi cukup buat sehari-hari. Mana lagi anak bungsunya masih sekolah di bangku SMP. Aturan ya kalau anak cowoknya udah nikah semua, si ibu dan suami bisa menikmati hari tua sambil nunggu anak bungsunya lulus aja nggak, sih?

GONG-nya, anak pertama si ibu tetiba dateng minta belikan rumah di sebuah perumahan. Meski bukan rumah mewah, tapi di ibu ini sampe rela utang ke bank 200 juta dengan jaminan pensiunan si suami. Gilak banget, kan? Ini udah salah sih, menurutku. Apa-apa diturutin.

Karena anak pertama dapat rumah, si anak kedua juga nggak mau kalah. Dia juga nodong minta si ibu ngasih dana ngerenovasi bengkelnya. Haduuuhhh. Lagi-lagi sama si ibu ini diturutin. Diutangin ke bank juga.

Kupikir yang waras cuma anak bungsu yang cewek. Ternyata sama aja. Kemarin si ibu cerita kalau anak bungsunya merajuk dengan bilang, "Masa mas-mas dapat duwit semua, aku nggak dikasih?"

Si ibu akhirnya nurutin kemauan si anak bungsu beli iPhone terbaru. Terus masih dibilangin kalau ada duwit jatah si bungsu di bank buat nanti.

#JujurAja gimana tanggapan kalian tentang cerita si ibu ini, Lemonades?

Sumpah ya, aku yang dengerin aja udah gedek banget. Pengin banget aku tereak, "Bu, anak itu nggak semua harus diturutin. Kalau emang idupnya lagi kesusahan, nggak harus selalu ditolong. Karena kalau suatu saat ibu nggak ada, mereka akan jadi manusia lemah yang nggak punya insting bertahan hidup karena apa-apa selalu disediain."

Siapa di sini yang setuju sama aku nih, Lemonades? Atau kalian setuju sama cara si ibu ini?

#ViralTerbaru #IRTAwards

2025/11/5 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDari cerita yang saya baca, saya juga pernah mengalami situasi serupa di lingkungan keluarga saya. Kadang memang sulit untuk menjadi orang tua yang harus bilang 'tidak' pada anak apalagi jika itu berkaitan dengan kebutuhan mereka setelah menikah. Namun, kenyataannya membantu terus-menerus tanpa adanya usaha mandiri dari anak bisa berujung pada ketergantungan yang berbahaya. Menurut pengalaman saya, kunci utama adalah komunikasi yang jujur dan tegas antara orang tua dan anak. Orang tua perlu memotivasi anak agar bisa mencari kerja dan mengelola keuangannya sendiri. Jika anak menikah, tanggung jawab ini sebaiknya semakin dijalankan oleh mereka sendiri, bukan malah membebani orang tua lagi. Ada kalanya saya melihat kasus seperti ibu dalam cerita ini, yang malah mengutang besar demi memenuhi permintaan anak. Rasa sayang memang luar biasa, tapi jika tidak dibatasi, justru bisa membuat anak malas berjuang. Anak yang lemah secara finansial dan mental bisa jadi beban seumur hidup orang tua. Pengalaman saya juga mengajari, bahwa menolak keinginan anak yang tidak penting, seperti gadget mewah atau pemborosan lain, adalah hal yang wajar dilakukan demi kebaikan mereka. Anak bungsu yang ingin iPhone terbaru misalnya, harus diajarkan bahwa keinginan tersebut bisa ditunda dan tidak selalu harus dipenuhi dari uang orang tua. Kita harus sadar kalau masa tua orang tua adalah waktu untuk menikmati hasil jerih payah hidup, bukan malah terus dipakai untuk menutup kebutuhan anak yang belum mandiri. Membantu itu perlu, tapi membiarkan anak hidup bergantung sepenuhnya pada orang tua justru tidak sehat. Cerita ini mengingatkan saya pada banyak orang tua yang harus berjuang keras sampai pensiun, tapi masih harus menanggung biaya anak dewasa yang belum mandiri. Semoga cerita ini bisa menjadi bahan refleksi bagi kita semua, terutama yang masih memiliki tanggung jawab keluarga.

21 komentar

Gambar Naintin Nain 👒
Naintin Nain 👒

Gregetan banget kak bacanya..😭 anak2nya dikasih enak malah nglunjak gk sih.. gk tau diri banget malah jadi kek mikir minta terosss.. si Ibu juga trlalu baik ke anak2nya juga gk baik paham gk sih..😭

Lihat lainnya(1)
Gambar Nia.ItsMe💞✨
Nia.ItsMe💞✨

anaknya keenakann dikasih trus sama emaknya. emaknya juga gak bisa tegas ke anaknya, apa2 diturutin. jadi anak2nya bersikap seenaknya🥺

Lihat lainnya(3)

Lihat komentar lainnya