hai lemonade... momen apa yang paling berkesan selama 2023 ini??
bagi aku, sampai sekarang ini jadi momen ga terlupakan dalam hidup aku.
di momen kelahiran anak kedua ini, aku gabisa ngebayangin sebelumnya bakal SC. karena aku fikir anak 1 normal maka anak 2 3 juga normal. dan ternyata dari pengalaman ini aku dapet banget banyak PELAJARAN yg sangat berharga.
... Baca selengkapnyaJujur, sebelum hamil anak kedua aku bahkan nggak terlalu ngerti soal plasenta previa. Yang aku tahu cuma “plasenta letak rendah”, tapi nggak kebayang kalau bisa se-serius itu sampai dijuluki kondisi antara hidup dan mati. Pas dokter jelasin sambil nunjukin ilustrasi medis plasenta previa, rasanya kayak ditampar realita.
Waktu lihat gambar plasenta letak rendah di USG, dokter nunjukin posisi plasenta yang nutup jalan lahir. Dari situ dia jelasin ada beberapa tipe: mulai dari yang cuma menutupi sebagian sampai yang totalis (nutup penuh). Ternyata aku termasuk plasenta previa totalis. Begitu dengar kata “totalis”, kepala langsung penuh pertanyaan: masih bisa lahiran normal nggak? Bahaya nggak buat bayinya? Dan yang paling nyesek: kenapa aku?
Aku sempat denial dan rajin cari info di internet. Liat banyak ilustrasi medis plasenta previa, baca pengalaman orang yang plasentanya naik seiring usia kehamilan. Aku coba positif thinking, berharap plasentaku juga akan geser naik. Tapi kontrol demi kontrol, posisinya tetap rendah bahkan makin jelas nutup jalan lahir. Di titik itu aku pelan-pelan belajar nerima kalau kemungkinan besar harus SC.
Yang bikin mental makin goyang, di keluargaku hampir nggak ada riwayat operasi. Jadi waktu aku cerita soal caesar, komentar yang muncul sering bikin down, misalnya, “Sayang banget nggak bisa normal”, atau “Nanti pemulihan SC kan lebih lama, repot bgt”. Padahal aku sendiri lagi berjuang berdamai sama kondisi medis yang nggak bisa aku pilih. Di situ aku belajar banget kalau komentar ke ibu hamil harus hati-hati, karena kita nggak tahu apa yang lagi dia hadapi.
Sambil nunggu HPL, aku dan suami sibuk cari rumah sakit dan dokter yang benar-benar ngerti plasenta previa. Kita konsultasi ke beberapa dokter buat cari second opinion, cuma buat pastiin kalau SC memang jalan terbaik dan paling aman. Ada dokter yang bilang bisa ditunggu, ada juga yang tegas bilang harus segera operasi karena risiko pendarahan besar. Setiap habis kontrol, aku hampir selalu nangis di mobil. Campur aduk antara takut, belum siap operasi, tapi juga nggak mau ambil risiko buat bayiku.
Sampai akhirnya satu hari aku mulai flek dan pendarahan. Dari situ aku sadar, semua penjelasan dokter bukan sekadar nakut-nakutin. Di RS, mereka jelasin jujur bahwa kondisi plasenta previa bisa bikin mereka di ruang operasi harus milih selamatkan ibu dulu atau bayi dulu kalau pendarahan parah. Dengar itu rasanya kayak dunia berhenti. Tapi anehnya, di momen super menegangkan itu aku juga ngerasa pasrah total sama Tuhan.
Aku sempat baca-baca juga tentang filosofi sebelum lahir, ada yang bilang ruh ditanya berkali-kali sebelum lahir ke dunia. Walaupun ini lebih ke kepercayaan dan renungan pribadi, hal-hal begitu bikin aku berpikir: mungkin memang aku dan bayiku sudah "setuju" dari awal untuk melewati ujian plasenta previa ini bareng-bareng. Bukan buat dihukum, tapi buat belajar kuat sama-sama.
Alhamdulillah, operasi SC berjalan lancar, tim medisnya suportif, dan bayiku lahir dengan selamat. Pemulihan memang lebih lama, luka operasi kadang masih kerasa kalau kecapekan. Tapi tiap lihat wajah anak, semua rasa sakit kayak ketutup rasa syukur.
Buat kamu yang lagi ngalamin plasenta letak rendah atau plasenta previa, kamu nggak sendiri. Wajar banget kalau takut, sedih, bahkan marah. Tapi jangan sungkan cari second opinion, lihat ilustrasi medis biar lebih paham kondisinya, dan ajak pasangan terlibat di setiap keputusan. Pada akhirnya, lahiran normal atau SC sama-sama perjuangan seorang ibu. Yang paling penting: ibu dan bayi pulang ke rumah dalam keadaan selamat.
masya Alloh emang bener ya perjuangan ibu itu ga bisa dibandingkan dengan apapun🥺
tapi kak aku boleh tau ngga, kata dokter apa yg menyebabkan bisa plasenta previa?
masya Alloh emang bener ya perjuangan ibu itu ga bisa dibandingkan dengan apapun🥺 tapi kak aku boleh tau ngga, kata dokter apa yg menyebabkan bisa plasenta previa?