Yummy
Kakanya yg ficky eater kebalikan adiknya yg semua di makan,semua barang ade nya makan .”
Kursi,piring,sapu ,semut semua di cobain di jilat semua ..
makanya sering sakit perut semua yg di pegang di masukin mulut#TentangKehidupan #Lemon8 #happysunday #baby #YayOrNay
Memiliki anak dengan kebiasaan makan yang berbeda memang menantang bagi orang tua. Dari cerita ini, kita melihat dua karakter anak yang kontras: kakak yang fussy eater alias pemilih makanan, dan adik yang cenderung memasukkan semua benda seperti kursi, piring, sapu, bahkan semut ke mulutnya. Kebiasaan seperti ini seringkali membuat orang tua khawatir terutama karena risiko sakit perut akibat kuman dan kotoran yang terbawa. Fussy eater adalah kondisi di mana anak sangat selektif terhadap makanan yang akan dimakan. Ini bisa dipengaruhi oleh faktor rasa, tekstur, atau bahkan pengalaman sebelumnya yang kurang menyenangkan. Sementara itu, anak yang memasukkan benda asing ke mulut mengekspresikan rasa ingin tahu dan eksplorasi lingkungannya melalui indra perasa dan sentuhan. Namun, kebiasaan ini perlu diawasi karena dapat menyebabkan infeksi atau gangguan pencernaan. Sebagai orang tua, penting untuk memahami bahwa keduanya adalah tahap normal dalam perkembangan anak tapi perlu pendekatan yang berbeda. Untuk fussy eater, cobalah untuk mengenalkan makanan baru secara bertahap dengan cara menarik dan melibatkan anak dalam memilih atau menyiapkan makanan. For anak yang suka memasukkan benda ke mulut, pastikan mainan dan barang di rumah bersih serta aman, ajarkan batasan dengan sabar, dan sediakan alternatif aman seperti mainan gigitan atau makanan yang menarik. Selain itu, dampak dari sering memasukkan benda ke mulut seperti kursi, piring, dan sapu juga bisa meningkatkan risiko tekanan pada sistem pencernaan sehingga sering sakit perut. Mengajarkan kebersihan diri dan lingkungan serta rutin berkonsultasi dengan dokter bila anak sering sakit sangat dianjurkan. Memahami kebiasaan unik tiap anak serta adaptasi pola asuh yang tepat tentunya sangat membantu untuk tumbuh kembang yang optimal sekaligus menjaga kesehatan mereka. Jangan lupa untuk saling berbagi pengalaman dengan orang tua lainnya agar mendapat insight dan dukungan yang lebih banyak dalam menghadapi masa-masa penuh warna ini.








