CATATAN HATI NARA 1 [ Pelet PELAKOR ]

CATATAN HATI NARRA 1

[ pelet pelakor ] ini terjadi di tahun 2024 Hingga 2026

2024

Hari itu hujan turun tanpa henti, sama seperti air mata yang berusaha kutahan sejak pagi. Aku Narra, sudah tiga belas tahun menikah dengan Firman. Kami memulai semuanya dari nol, sejak ia bekerja sebagai kuli angkat bangunan. Hingga kini ia diangkat sebagai Mandor di sebuah perusahaan di kota Bandung. Rezeki mengalir deras apa yang anaknya secara tidak berlebihan Firman selalu membelinya. Namun seiring berjalannya waktu ia pun berubah. Mimpi memperbaiki rumah lama tertutup sudah. Cita-cita yang ingin aku bangun tertiup angin. Dulu dia sering bilang, "Narra, kamu adalah rumahku. Kemanapun aku pergi, ke pelukanmu lah aku pulang." Kata-kata itu sekarang terasa seperti duri di dada. Kapan mulai berubah? Aku tak sadar. Mungkin pelan sekali, hingga aku terlambat menyadarinya.

Siapa yang merusaknya? Wanita inilah :

Aku mengenalnya dengan nama Nina Adhisa. Guru SD di Garut. Yang telah memiliki suami bernama Adam Wahyu. Seorang pria berpenghasilan kecil, namun masih tetap bertanggung jawab mencukupi hidupnya, Mereka telah memiliki dua orang anak satu laki-laki dan satu anak perempuan.Tetapi Nina merasa tidak puas dengan hidupnya, hingga ia telah memilih sebagai pelakor bahkan telah menjual diri demi uang.

Disuatu hari Nina mengirimiku sebuah bukti foto mesra bersama Firman bahkan sebuah video bersamanya. Entah apa maksudnya aku tidak paham. Aku menanyakannya pada Firman, ia tidak menjawab, ia hanya diam dan menyeringai saja.

Dulu, aku tak pernah sekalipun mengadukan masalah ini kepada keluarganya. Namun kini, aku akhirnya mengirimkan segala bukti itu kepada kakaknya. Tentu saja kakaknya marah besar. Entah apa yang dikatakannya pada Pirman, hingga ia pun menelponku dengan amarah:

"Jangan kau mengadu pada keluargaku! Urusan kita, selesaikan berdua saja. Kenapa kau harus melibatkan mereka?" bentaknya penuh emosi.

"Urusan kita?! Kalau memang begitu, pulanglah dan jelaskan semuanya. Mengapa setiap kali aku bertanya, kau hanya diam saja? Apa maksudnya dengan urusan kita?" jawabku dengan nada kesal.

Ia kembali membisu, lalu menutup teleponnya dengan kasar.

Sungguh, aku merasakan ini bukan dia. Ini bukan suamiku yang sesungguhnya, seakan ia berubah padaku delapan puluh persen. Dulu sebelum bersama Nina ia tidak seperti ini, dan itu masih aku maafkan.

Agustus 2026 Catatan Hati Narra 15;30

8/16 Diedit ke

... Baca selengkapnyaDalam kehidupan rumah tangga, kisah seperti yang dialami Narra memang sangat menyakitkan dan tidak jarang terjadi di lingkungan sekitar kita. Fenomena pelakor atau perebut laki orang seringkali menjadi momok yang menghancurkan kebahagiaan dan kepercayaan dalam sebuah pernikahan. Dari pengalaman pribadi maupun cerita orang lain yang saya dengar, menghadapi pelakor bukan hanya soal perselingkuhan, namun juga tentang bagaimana kita menjaga komunikasi dan membangun ikatan emosional dengan pasangan. Saya pernah mendengar dari beberapa teman yang mengalami masalah serupa, perasaan tidak diketahui, diabaikan, dan ketidakjelasan pasangan menjadi sumber utama luka hati. Hal ini sering membuka celah bagi pihak ketiga untuk masuk dan mengambil kesempatan. Oleh karena itu, menjaga komunikasi yang terbuka dan jujur sangat penting agar pasangan tidak merasa terabaikan. Selain itu, memberi perhatian dan penghargaan kecil sehari-hari bisa mencegah rasa jenuh dan menjauhkan dari godaan eksternal. Dalam kasus Narra dan Firman, kehadiran Nina Adhisa sebagai pelakor yang tidak hanya mengambil waktu dan perhatian suami tetapi juga menjual diri demi uang, menunjukkan betapa kompleks dan beratnya masalah ini. Hal ini juga mengingatkan kita agar selalu waspada dan menjaga keharmonisan rumah tangga dengan saling berkomitmen dan mendukung satu sama lain. Saya juga ingin berbagi bahwa dalam menghadapi masalah seperti ini, penting sekali untuk mendapatkan dukungan dari keluarga dan sahabat agar tidak merasa sendiri. Komunikasi dengan keluarga juga harus dilakukan secara bijak dan tepat waktu agar masalahnya bisa diselesaikan dengan baik tanpa menimbulkan konflik yang lebih besar. Seperti Narra yang akhirnya mengirim bukti ke kakak Firman, walaupun mendapat reaksi keras, tapi langkah tersebut dapat menjadi pembuka jalan untuk penyelesaian masalah. Kisah Narra ini juga memberi pelajaran bahwa berubahnya sikap pasangan mungkin merupakan tanda adanya masalah serius yang harus segera diatasi. Jangan terlalu lama menunda untuk membicarakan perasaan dan masalah yang ada agar tidak menimbulkan jarak dan kecurigaan yang sulit diperbaiki. Akhirnya, semoga cerita ini dapat menjadi inspirasi bagi pembaca untuk lebih giat menjaga keutuhan rumah tangga, menghargai pasangan, dan menghindari cobaan yang dapat merusak ikatan suci pernikahan.