... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali belajar Sejarah Kebudayaan Islam tentang Wali Songo, aku sempat bingung harus mulai dari mana. Akhirnya aku coba rangkum cara dakwah mereka dengan gaya yang lebih visual, mirip infografis dan mind mapping, supaya anak-anak lebih tertarik baca. Empat tokoh yang sering banget keluar di buku SKI adalah Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati.
Sunan Kalijaga (Raden Sahid) terkenal banget dengan dakwah budaya. Ia berdakwah lewat wayang kulit, tembang Jawa, seni suara, grebeg, sampai gamelan. Cerita-cerita wayang yang awalnya penuh unsur Hindu-Buddha pelan-pelan diisi nilai-nilai Islam. Misalnya, pesan tentang kejujuran, amanah, dan tawakal dimasukkan ke jalan cerita. Buat anak-anak, aku biasanya suruh mereka bikin peta konsep Sunan Kalijaga: di tengah tulis “Raden Sahid / Sunan Kalijaga”, lalu cabang-cabangnya “wayang kulit”, “gamelan”, “tembang”, “akulturasi budaya”, dan “selametan”. Cara ini bikin mereka gampang mengingat bahwa dakwah Islam waktu itu tidak frontal, tapi pelan-pelan lewat budaya yang sudah dikenal masyarakat.
Sunan Muria (Umar Said), putra Sunan Kalijaga, punya gaya dakwah yang lembut dan dekat dengan rakyat jelata. Ia lebih sering berdakwah di desa-desa di daerah pegunungan, makanya sering disebut berdakwah di desa atau peta dakwah Sunan Muria. Media yang dipakai mirip ayahnya: budaya Jawa, gamelan, dan tembang. Kalau untuk tugas, anak-anak bisa diminta membuat mind map tentang Sunan Muria: tulis tempat dakwahnya (Gunung Muria, desa-desa), lalu cabang cara dakwahnya (gamelan, tembang, pendekatan halus). Buat yang suka gambar, bisa juga bikin “sunan muria illustration” sederhana: tokoh bersarung, latar gunung, dan alat musik tradisional.
Sunan Kudus (Ja’far Shadiq) menarik karena pendekatannya sangat toleran. Ia dikenal menghormati masyarakat yang masih kuat tradisi Hindu-nya, misalnya dengan tidak menyembelih sapi di hadapan mereka karena sapi dianggap hewan suci. Untuk menarik perhatian, ia memakai simbol-simbol yang sudah familiar dan juga memanfaatkan seni seperti gending Maskumambang dan Mijil. Di kelas, aku biasanya minta anak-anak membuat mind mapping Sunan Kudus: apa saja nilai toleransi yang bisa diambil, di mana pusat dakwahnya, dan contoh-contoh cara ia berdakwah tanpa kekerasan.
Sunan Gunung Jati (Sayyid Al-Kamil) banyak dikenal di daerah Cirebon. Ia menyebarkan Islam lewat pendekatan budaya dan pembangunan sarana ibadah seperti masjid. Selain itu, ia juga memanfaatkan wayang dan gamelan, mirip Sunan Kalijaga, tapi cakupan dakwahnya lebih luas karena juga bersentuhan dengan jalur perdagangan. Saat menjelaskan ke anak-anak, aku tekankan bahwa dakwah Sunan Gunung Jati bukan hanya ceramah agama, tapi juga memberi contoh lewat pembangunan dan memberi teladan dalam toleransi.
Kalau anak-anak sulit tertarik baca, aku biasanya gabungkan teks dengan infografis: misalnya buat kotak-kotak kecil berisi "infografis Sunan Kalijaga", "infografis Sunan Muria", dan seterusnya. Di dalamnya ada poin singkat: tahun hidup, cara dakwah, media seni (wayang kulit, gamelan, tembang), dan lokasi makam. Dengan begitu, rangkuman belajar SKI terasa seperti poster, bukan cuma tulisan panjang, dan mereka lebih semangat membuka buku atau catatan ulangannya.