(355)
Kenangan Indah Bapak
Tanpa meminggirkan peran Ibu dan jangan melupakannya, kehadiran ayah sangatlah berarti bagi anak.
Akan berbeda anak yang tumbuh berkembangnya diberi cukup asupan kasihsayang ayah, dengan anak yang jauh dari kebersamaan ayah.
Lebih-lebih interaksi yang hidup dan nyaman antara ayah dan anak, tentu sangat bermanfaat bagi perkembangan mental dan karakter positifnya.
Di dalam Al Qur'an, kita mengenal percakapan Nabi Ya'qub dengan putranya, Yusuf. Ada juga Luqmanul Hakim dengan anaknya.
Istilah fatherless mungkin sudah tidak asing lagi. Fatherless menggambarkan seorang anak yang kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Mungkin perceraian, mungkin meninggal dunia, mungkin pola asuh yang kasar, mungkin ketidakmampuan berkomunikasi, atau sering ditinggal pergi untuk alasan kerja.
Apapun alasannya, anak yang mengalami fatherless ibarat tanaman yang layu. Tanpa siraman air yang menyejukkan.
Masing-masing kita tentu memiliki kenangan dengan ayahnya. Tak terkecuali saya.
Antara saya usia 12 atau 13 tahun, ayah pernah bercerita, " Le, dungo sing paling sering tak woco ki dungo iki ".
Setelah itu Beliau menyebutkan :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
" Ya Allah, sungguh aku memohon kepada- Mu : ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima ".
Puluhan tahun setelahnya, saya baru mengetahui bahwa doa di atas sering dibaca Rasulullah ﷺ setelah salat Subuh.
Ibunda Ummu Salamah bercerita, " Dahulu, setelah salat Subuh, ketika salam, Beliau membaca :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
HR Ibnu Majah nomor 925
Begitu dalam cinta dan kasihsayang Rasulullah ﷺ untuk umat. Beliau mengajarkan untuk kita, tentang keinginan dan harapan apa yang kita pinta kepada Allah.
Beliau ﷺ tidak mengarahkan agar kita meminta materi duniawi yang berlimpah, bukan harta yang bertumpuk, bukan aset tanah di mana-mana, bukan jabatan yang prestise, bukan tentang kehidupan dunia yang melelahkan kita diajarkan untuk meminta.
Ilmu yang bermanfaat! Subhanallah. Setiap lembaran hari, setelah salat Subuh, dimulai dengan memohon ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menghadirkan kedamaian di hati dan kesejukan dalam jiwa. Ilmu yang diamalkan. Bukan sekadar tahu tanpa praktik. Bukan sebatas teori tanpa aksi.
Berikutnya adalah rizki yang baik. Jumlah tidak jadi patokan. Banyak sedikit bukan ukuran. Percuma banyak jika diperoleh dengan cara yang haram. Menipu, korupsi, riba, mencuri, atau cara-cara kotor lainnya. Sebab, walau banyak, namun caranya salah, hanya mendatangkan malapetaka.
Nomor tiga; amalan yang diterima. Inilah keinginan terbesar hamba. Ia beramal, ia beribadah, ia bermuamalah, walau dipandang kecil atau remeh, harapannya diterima oleh Allah Ta'ala.
Sungguh merugi jika lelah beramal dan capek berbuat, namun tidak diterima. Ditolak! Mungkin ikhlasnya yang tidak tergapai, atau ittiba' (meneladani Rasulullah ﷺ) yang tidak tercapai.
Intinya, jika Rasulullah ﷺ saja sering membaca doa ini selepas salat Subuh, bukankah kita harus lebih bersemangat lagi?
Jelas! Rasulullah ﷺ paling berilmu, namun Beliau ﷺ terus meminta ilmu yang bermanfaat. Maka, jangan merasa sudah paling pandai! Jangan anggap diri sudah serba tahu! Kalaupun benar berilmu, sudahkah bermanfaat?
Jelas! Rasulullah ﷺ diberi karunia rizki yang terbaik. Walaupun demikian, Beliau ﷺ tidak berhenti memohon rizki yang baik. Maka, jangan terpaku pada jumlah banyak! Jangan merasa sudah sukses kalau aset terus bertambah! Apakah benar-benar baik? Didapat dengan baik dan digunakan untuk yang baik.
Jelas! Rasulullah ﷺ yang paling pertama masuk surga. Beliau ﷺ mengajarkan kita untuk meminta amalan agar diterima. Maka, evaluasi lah setiap amalan? Tentang ikhlas dan kesesuaian dalilnya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
29 Jumadil Ula 1447 H/20 November 2025
https://t.me/anakmudadansalaf
Peran ayah dalam kehidupan anak tidak bisa digantikan begitu saja. Banyak studi psikologi menunjukkan bahwa kehadiran ayah yang penuh kasih sayang memberi dampak besar bagi perkembangan mental dan emosional anak. Anak yang tumbuh dengan kedekatan dan interaksi positif bersama ayah cenderung memiliki rasa percaya diri lebih kuat, kemampuan sosial yang baik, dan karakter yang tangguh dalam menghadapi masalah. Sebaliknya, kondisi fatherless, yakni ketiadaan figur ayah baik karena perceraian, kematian, atau ketidakhadiran emosional, berpotensi menyebabkan luka batin dan ketidakseimbangan psikologis anak. Oleh karena itu, penting bagi ayah untuk terlibat aktif dalam kehidupan anak, memberikan perhatian dan kasih sayang yang tulus. Di sisi spiritual, artikel ini juga mengangkat doa mulia yang diajarkan Rasulullah ﷺ, yaitu: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا yang artinya memohon kepada Allah agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amalan yang diterima. Doa ini mengandung makna mendalam yang mengajarkan kita memprioritaskan kualitas hidup dan spiritualitas daripada materi semata. Ilmu yang bermanfaat bukan hanya sekadar teori, tetapi membawa kedamaian dan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain. Rizki yang baik menekankan kehalalan sumber rezeki dan penggunaannya untuk kebaikan. Amalan yang diterima mengingatkan kita pentingnya ikhlas dan konsistensi dalam beribadah. Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tantangan, nilai-nilai ini memberikan keseimbangan antara dunia dan akhirat, membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik. Interaksi ayah dan anak yang sehat juga mendukung terbentuknya karakter yang selaras dengan nilai-nilai islami tersebut. Sebagai tambahan, gambar "QURANUL KARIM PERKATA TARWID B6 SHA THE HOLY ALFATIH QUR'AN PORTABLE" merupakan pengingat visual akan pentingnya Al-Qur'an sebagai sumber ilmu yang bermanfaat dan petunjuk hidup bagi keluarga muslim. Membiasakan membaca dan menghafal ayat suci Al-Qur'an sejak dini bisa semakin mempererat hubungan ayah dan anak serta menanamkan fondasi akhlak yang mulia. Kesimpulannya, memperkuat ikatan ayah dan anak serta mengamalkan doa Rasulullah ﷺ secara istiqamah akan membawa kehidupan yang penuh makna, bahagia, dan diridhai Allah. Mari kita jadikan doa tersebut sebagai amalan harian sekaligus pengingat akan tanggung jawab kita sebagai orang tua dan hamba yang taat.
