cinta memang penuh rekayasa🤭
Kadang aku ngerasa, cinta itu bukan cuma soal siapa yang ketemu siapa, tapi juga soal rekayasa perasaan yang pelan-pelan dibentuk dari detik ke detik. Ada fase di mana kita sengaja menutup mata dari tanda-tanda bahaya, seakan-akan semua baik-baik saja, padahal di balik romansa itu ada darah gelap, luka lama, dan bias cara kita memandang diri sendiri. Aku pernah ada di hubungan yang kelihatan manis di luar, tapi di dalamnya penuh manipulasi halus. Dia selalu bilang sayang tiap beberapa jam, kirim chat tiap beberapa menit, seolah durasi perhatian itu jadi bukti cinta. Padahal, setelah aku sadar, semuanya cuma cara halus buat ngatur gerak aku: aku dihubungi terus supaya nggak punya ruang buat berpikir jernih. Di titik itu aku paham, detik dan durasi dalam hubungan bukan cuma soal waktu, tapi soal seberapa dalam kita dimainin tanpa sadar. Ada juga masa di mana aku ngerasa pandanganku soal cinta itu sangat bias. Aku terbiasa normalisasi cemburu berlebihan sebagai bukti cinta, padahal sebenarnya itu bentuk kontrol. Romansa gelap kayak gini sering dibungkus kata-kata manis, janji masa depan, dan cerita-cerita penuh drama biar kelihatan romantis. Kita yang lagi sayang-sayangnya jadi gampang percaya, seolah semua pengorbanan dan air mata itu wajar selama masih ada kata “cinta”. Yang paling berat justru ketika harus mengakui ke diri sendiri kalau aku juga ikut "merekyasa" perasaanku. Aku pura-pura bahagia, pura-pura nggak sakit, pura-pura kuat, demi mempertahankan sesuatu yang sebenarnya udah retak sejak lama. Detik demi detik di hubungan itu terasa panjang, tapi aku tetap bertahan karena takut mulai dari nol lagi. Di situlah darah gelap romansa muncul: kita rela menyakiti diri sendiri demi bertahan di cerita yang seharusnya sudah tamat. Sekarang, kalau ngomongin cinta, aku nggak lagi lihat cuma dari permukaan. Aku mulai perhatiin durasi: seberapa sering aku harus memaksa diri tertawa, seberapa lama aku merasa nggak tenang tiap hari. Kalau waktunya lebih banyak dihabiskan buat nangis, takut, atau overthinking, berarti itu bukan romansa sehat, tapi romansa gelap yang penuh rekayasa. Buat kamu yang lagi ada di posisi serupa, coba jujur sama diri sendiri. Hitung detik-detik di mana kamu benar-benar merasa aman dan diterima apa adanya. Jangan biarkan bias, kenangan manis sesaat, atau janji kosong bikin kamu menormalisasi hubungan yang melukai. Cinta seharusnya nggak serumit itu; kalau sudah terlalu banyak skenario rekayasa dan darah gelap di baliknya, mungkin saatnya kamu tulis bab baru dalam hidupmu.
masa ci🥺🥺🥺👍👍