Lulus Magister dari Hasil Kerja Freelance
2019 lalu, memutuskan untuk lanjut studi S2 Ilmu Komunikasi. Ini juga berkat dorongan ibu.
Akhirnya memantapkan diri lanjut yang waktu itu belum punya pekerjaan tetap. Harapannya, bisa dapat beasiswa Kominfo tapi gak lulus. Alhamdulillah.
Saat persiapan kuliah, saya mulai jualan jilbab, beli grosir di pasar lalu jual satuan. Saya mikir, lumayan buat tambahan uang jajan pas kuliah nanti.
Jelang masuk kuliah, Alhamdulillah dapat tawaran jadi editor news media online yang bisa work from anywhere.
Gak sampai di situ, saya minta ke teman yg kerja sebagai penulis skrip YouTube buat saya bisa gabung jadi salah satu penulis juga. Alhamdulillah diterima.
Jadi selama studi S2 Ilmu Komunikasi Unhas, saya tetap beli barang grosir di pasar, lalu packing kirim ke reseller di Mamuju, kadang juga jual langsung sama teman kuliah.
Juga tetap ngerjain target editan berita, dan masih punya waktu buat nulis skrip YouTube.
Dari semua aktivitas tersebut, kuliah dan kerja sama pentingnya. Soalnya untuk kuliah butuh biaya, dan biayanya dari kerja dan jualan. Makanya ini melatih saya untuk bisa menetapkan skala prioritas di setiap waktunya.
Dini hari sampai subuh, kerja tugas kuliah. Tugas kuliah sy targetkan selesai sebelum jam 7 pagi atau sebelum masuk kuliah.
Setelah tugas kuliah selesai, saya mulai ngedit berita yang dikirim oleh 2 reporter yang liputan lapangan. Ini saya kerjakan sambil nunggu jadwal dan dosen masuk ngajar. Saat kuliah berlangsung, saya fokus buat belajar. Setelah kuliah, baru deh saya lanjut ngedit berita buat kejar target editan harian. Waktu itu, dikasih target 25 berita/hari. Kadang menulis berita Evergreen juga buat nutupin target karena kalau cuma dari reporter, kadang gak cukup sampai 25 berita. Pokoknya urusan editan berita dan kuliah, jadwalnya pagi sampe sore.
Sorenya pulang kosan, istirahat sebentar sambil nunggu magrib. Malam sebelum tidur, saya nulis skrip konten edukasi YouTube. Untuk kerjaan yang satu ini, sedikit fleksibel, karena sebulan palingan dikasih 10-an skrip, makanya saya milih menulis malam sebelum tidur.
Gak terasa, proses perkuliahan berlalu saya jalani dengan rutinitas kerja dan jualan. Senang banget sih, dan bersyukur tidak lolos beasiswa. Jadinya bikin saya mikir untuk kerja, dan ini melatih hard skill dan soft skill saya, Alhamdulillah.
Pertengahan kuliah, Covid-19 melanda. Sempat kuliah online juga. Dan peristiwa ini bikin saya gak lagi bisa jualan. Semua serba terbatas. Namun Alhamdulillahnya, pekerjaan sebagai penulis freelance tetap jalan. Masih bisa dapat penghasilan dari menulis dan kuliah tetap jalan. Alhamdulillah.
Sampai akhirnya melewati semua proses perkuliahan selama dua tahun, saya lulus dengan nilai IPK 3,9. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur, bisa lulus Magister Ilmu Komunikasi Unhas. Sesuatu yang saya tidak pernah bayangkan sewaktu masih kecil dulu.
Nah foto ini adalah momen yang sangat berharga. Bersyukur juga bisa wisuda offline walau pakai masker. Ini adalah pelajaran dan perjalanan yang sangat berharga.
Terima kasih telah membaca ceritaku. Mari kita berdaya bareng dan saling berbagi cerita. Semoga menginspirasi 🤗
Menjalani studi Magister sambil bekerja freelance dan berjualan ternyata bukan hanya soal mencari penghasilan tambahan, tapi juga sebuah latihan kedisiplinan dan manajemen waktu yang intens. Banyak mahasiswa yang mungkin merasa sulit mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaan, apalagi jika bekerja secara freelance seperti editing berita atau menulis skrip YouTube yang menuntut deadline ketat. Dengan pengalaman ini, kita bisa belajar pentingnya penetapan skala prioritas dan memanfaatkan waktu-waktu produktif sehari-hari, misalnya menyelesaikan tugas kuliah dini hari saat pikiran masih segar, kemudian fokus penuh mengikuti perkuliahan di siang hari. Selain itu, fleksibilitas kerja freelance memberi peluang untuk beradaptasi dengan jadwal kuliah maupun kondisi pandemi yang menyebabkan kuliah online dan pembatasan aktivitas jualan secara offline. Pengalaman tetap melanjutkan jualan jilbab grosir dan mengirim ke reseller juga mengajarkan pentingnya menjaga sumber penghasilan yang beragam agar tetap bisa bertahan secara ekonomi. Kisah ini memberikan inspirasi bahwa tidak selalu beasiswa menjadi jalan satu-satunya untuk bisa kuliah lanjut. Dengan kerja keras, manajemen waktu, dan konsistensi, kita bisa sukses menyelesaikan studi dengan nilai baik bahkan sambil belajar banyak hard skill dan soft skill dari dunia kerja freelance. Apalagi di masa pandemi, tetap bisa beradaptasi dengan beralih ke kerja remote dan tetap produktif menulis menjadi kunci bertahan menghasilkan pendapatan. Hal ini sangat penting untuk mempersiapkan karier masa depan setelah lulus. Bagi teman-teman yang ingin melanjutkan studi tapi ragu karena masalah biaya, cerita ini membuktikan bahwa menggabungkan kuliah dan freelance bisa jadi solusi. Kuncinya adalah disiplin, konsistensi, dan tentunya jangan lupa menjaga kesehatan supaya bisa optimal menjalani aktivitas padat. Semoga kisah nyata dan strategi mengatur waktu ini bisa menjadi motivasi bagi banyak orang yang ingin berdaya dan mencapai impian pendidikan tanpa harus menunda atau berhenti di tengah jalan.
