A life with Kpop
Kalau membicarakan tentang kehidupan. Ada banyak yang bisa diperbincangkan. Mungkin dari membicarakan yang disuka. Its Kpop dan kenapa bisa seriuh ini.
Mungkin dimulai dari melihat drama yg menarik seperti sinetron. Sama kayak sinetron tersanjung cuma lebih pendek saja, pemainnya manusia juga cuma beda negara saja. Awalnya seperti itu, lalu ketika hal yg kita kira preferensi menjadi favorit, dengan banyak alasan intinya lebih menggerakkan hati. Tak butuh waktu lama jadi penikmat menjadi fans.
2010 ketika belum banyak yang meriuhkan kpop, ada segmenya tapi tak sebanyak ini.Awalnya full house, boys over flower, princess hours. Then We know the other from another. Its superjunior and snsd. And berkembang menjadi kpop generasi kelima sekarang ini.
Awalnya karena enak didengar dan visual yang membuat terkesima. Lalu bagai mantra yang diputar setiap kali, irama yg mengetuk di dada berulang kali, nyanyian yang dilantunkan mengisi hari dan diwaktu kita ingini. Akhirnya malah jadi penikmat yang berdedikasi.
Jauh dari itu, walaupun entertaintmen adalah bisnis yg menggerakkan emosi dan mungkin kita adalah market yang mereka cari. Tidak ada keberatan, karena kualitas atau kesadaran memilih sudah terjadi. Bahkan kpop sendiri sekarang juga menjadi sebesar ini juga karena usaha dua arah pelaku dan penggemar.
Bagi penukis sendiri a life with kpop bukan masalah genre atau preferensi lagi. Tapi entitas hidup seperti berpasangan dengan ciptaan yg memiliki warna sendiri.
Kalau aku bilang "a life with Kpop", itu beneran bukan cuma soal dengerin lagu Korea tiap hari. Rasanya kayak punya dunia kecil sendiri yang selalu siap ditinggali kapan pun aku capek sama realita. Kadang cuma dengan pakai earphone, play satu lagu yang pas, hati yang tadinya semrawut bisa pelan-pelan reda. Menariknya, kecanduan Kpop itu buatku berawal dari hal-hal kecil: satu drama yang kebetulan kutonton, satu lagu yang iseng kudengerin, satu koreografi yang tiba-tiba muncul di beranda. Dari situ penasaran, cari tahu liriknya, cari tahu chord lagunya, sampai akhirnya ikut nyanyi walau pengucapan masih belepotan. Ada momen di mana aku benar-benar terkesima sama cara musik dan visual mereka dirangkai, kayak paket hiburan yang niat banget dikerjain. Yang sering disalahpahami orang luar adalah: "ngapain sih segitunya sama Kpop?" Padahal kalau mereka mau duduk sebentar dan baca terjemahan lirik, atau dengar cerita di balik lagu, mereka bakal paham kenapa musik ini bisa nyentuh banyak hati. Ada lagu-lagu yang terasa kayak pelipur lara, nemenin di masa paling gelap. Ada juga lagu yang enerjik banget sampai bisa jadi bensin semangat waktu lagi kejar deadline. Kehidupan bareng Kpop juga bikin aku belajar banyak hal: disiplin dari ngikutin jadwal comeback, sabar nungguin teaser sedikit demi sedikit, sampai belajar menerima kalau nggak semua idol dan grup bisa bertahan selamanya. Ada masa-masa senang ikut fandom project, tapi ada juga masa hati remuk waktu denger berita hiatus atau bubar. Di situ aku ngerasa banget kalimat di gambar: "kesukaan tidak pernah salah, karena suka digerakkan oleh hati yang hidup". Kita mungkin nggak bisa ngatur akhir ceritanya, tapi kita bisa nikmati proses suka-nya. Kebiasaan kecil kayak nyari arti lirik, nyari chord lagu yang bikin aku terkesima, latihan nyanyi atau dance sederhana di kamar, semuanya pelan-pelan jadi bagian dari rutinitas. Entertainment yang awalnya cuma "buat hiburan" jadi teman setia di sela-sela kerja, belajar, atau sekadar rebahan. Dan menurutku, selama kita masih sadar batas, bisa bedain mana fantasi dan realita, menikmati Kpop sedalam itu sah-sah aja. Karena pada akhirnya, tiap orang punya cara sendiri untuk merasa hidup, dan ini kebetulan caraku.




