inilah seluk beluk tinggal di desa. di desa tuh masih asri Lo, udaranya masih bersih segar, jauh dari polusi sering banget denger burung berkicau,,, yang selalu bikin kangen tuh ketika kita ke kota tuh ya ketika dengar Azan berkumandang, enaknya tuh orang -orang yang tinggal di desa masih bergotong royong gitu ketika ada tetangga ada yang punya hajat maka tetangga sekitarnya akan datang membantu memasak, bersih-bersih rumah dan nyuci piring pokonya enak deh karena masih kekeluargaan antar tetangga...
kalau ada hal baiknya ada hal yang aku anggap gak baik sih yaitu gosip kalau satu orang gosip satu kampung dah tau dlm satu hari 🤣, kadang kayak ngatur" gitu Lo gayanya... ets tpy itu bukan semua orang begitu ya mungkin sifat orng aja yg modelan begitu 😊tpy bersyukur sih bisa hidup bertetangga dengan rukun dan gotong royong.
ada gak di sini lemonade yang tinggal di desa juga..? komen yuk 👇 kita cerita-cerita 😊
... Baca selengkapnyaKalau ngomongin kehidupan di desa, yang paling kerasa banget itu ritmenya jauh lebih pelan dan tenang dibanding kota. Pagi-pagi biasanya sudah dibangunin suara ayam berkokok, burung berkicau, dan kalau musim hujan, suara air yang jatuh ke tanah berlumpur di jalan desa itu khas banget. Pemandangan hijau, pohon kelapa, sawah yang membentang, bikin mata dan pikiran agak adem.
Udara di desa juga beda. Keluar rumah aja udah berasa angin sepoi-sepoi yang bersih, nggak campur asap kendaraan. Jalan tanah yang kadang becek kalau habis hujan mungkin bikin sepatu kotor, tapi justru itu yang bikin vibe pedesaan kerasa natural dan asri. Malam harinya langit bisa kelihatan penuh bintang karena minim polusi dan lampu kota.
Soal suasana sosial, gotong royong itu memang jadi nyawa kehidupan di desa. Kalau ada tetangga punya hajat, entah itu nikahan, khitanan, atau syukuran kecil-kecilan, biasanya warga sekitar langsung datang bantu tanpa diminta. Ada yang bagian masak di dapur umum, ada yang nyuci piring, beres-beres rumah, sampai bantu atur kursi dan dekorasi. Rasanya kayak satu keluarga besar, bukan cuma sekadar tetangga. Dari kebiasaan gotong royong ini, kita juga jadi gampang saling kenal satu sama lain.
Di desa, suara azan juga terdengar jelas, apalagi kalau rumah dekat masjid atau musala. Itu salah satu hal yang bikin kangen kalau lagi main ke kota. Waktu-waktu ibadah terasa lebih tertata karena suasananya mendukung, dan kadang setelah salat berjamaah, warga lanjut ngobrol santai di teras masjid.
Tapi bukan berarti kehidupan di desa tanpa drama. Gosip itu lumayan kencang peredarannya. Kadang kalau ada satu kejadian kecil, bisa jadi se-kampung tahu dalam sehari. Buat sebagian orang ini mengganggu, apalagi kalau sampai ikut ngatur-ngatur urusan pribadi. Tapi di sisi lain, ini juga tanda kalau orang-orang di desa saling memperhatikan, walaupun memang harus disaring mana yang positif dan mana yang cuma bikin sakit hati.
Hal lain yang sering terlupakan adalah soal pekerjaan dan penghasilan. Banyak warga desa yang menggantungkan hidup dari bertani, berkebun, atau kerja serabutan. Ritme kerja mereka mengikuti alam: musim tanam, musim panen, atau cuaca. Penghasilan mungkin nggak sebesar di kota, tapi banyak yang merasa cukup karena kebutuhan hidup juga nggak terlalu mahal, dan beberapa kebutuhan bisa dipenuhi dari kebun sendiri.
Buat yang lagi mikir pindah ke desa atau pengin coba tinggal sementara, perlu siap mental dengan akses yang kadang terbatas. Jalan masih tanah atau berlumpur, sinyal internet suka hilang-timbul, dan jarak ke fasilitas seperti rumah sakit besar atau mall lumayan jauh. Tapi kalau kamu tipe orang yang suka ketenangan, suka pemandangan alam, dan pengin hidup lebih dekat dengan masyarakat yang kekeluargaan, kehidupan di desa bisa jadi pengalaman yang bikin shock tapi menyenangkan.
Kalau kamu juga tinggal di desa, boleh share di kolom komentar versi kamu tentang plus minus kehidupan di desa. Biar kita sama-sama saling relate dan tukar cerita.