maaf jika aku sebagai ibumu mudah mengucapkan kata kasar kepadamu bahkan aku sering lepas kontrol dan memukul mu...sering kali aku ingin di mngerti oleh mu.menuntut mu mengerti smuanya.tp percayalah aku rela melawan dunia hanya untuk mu.aku rela memprtruhkan nyawa untk mu #Seandainya#MaluGak#EditanViral
2025/9/22 Diedit ke
... Baca selengkapnyaKadang kalau lagi sendirian, aku suka baca ulang kalimat, "lukamu adalah sakitku" dan rasanya pas banget menggambarkan isi hati seorang ibu. Setiap kamu tersakiti, entah oleh kata-kata orang lain, perlakuan teman, atau bahkan oleh sikapku sendiri, rasanya semua itu ikut ngena ke hati aku juga. Mungkin aku nggak selalu bisa nunjukin dengan cara yang lembut, tapi di dalam kepala dan doa, kamu itu selalu nomor satu.
Sebagai ibu, aku masih belajar. Nggak ada sekolah resmi buat jadi orang tua, jadi sering banget aku bereaksi pakai emosi. Kadang kalau kamu bandel, ngeyel, atau susah diatur, mulut ini keceplosan bilang hal-hal yang nyakitin. Setelah itu, malamnya aku kepikiran terus, nyesel, dan takut kata-kata itu jadi luka di masa depanmu. Kayak tulisan di foto, "bahagia adalah lukisan masa depanmu" – aku takut banget kalau lukisan masa depanmu malah ternodai oleh sikap dan kata-kataku sendiri.
Kalau kamu nanti sudah besar dan mungkin lagi cari lirik atau kata-kata tentang luka dan sembuh, semoga kamu juga ketemu curhatan ini. Biar kamu tahu, di balik marah-marahku, ada takut yang besar: takut kehilanganmu, takut kamu salah pergaulan, takut kamu tersesat. Marahku sering kali sebenarnya adalah cemas yang nggak bisa aku jelasin dengan kata-kata yang halus.
Aku juga belajar pelan-pelan buat mengubah cara bicara. Dulu aku pikir yang penting kamu nurut, tapi sekarang aku sadar, caraku ngomong bisa jadi membekas dalam jangka panjang. Jadi aku mulai coba tarik napas dulu sebelum ngomong, belajar bilang maaf ke anak sendiri, dan nggak gengsi buat peluk kamu duluan setelah bertengkar. Nggak selalu berhasil, tapi aku mau terus mencoba.
Kalau suatu hari kamu merasa luka karena aku, entah dari pukulan, bentakan, atau kalimat kasar, aku berharap kamu mau cerita. Jangan dipendam. Tulis kalau perlu, kayak "sebuah catatan digital dari anak untuk ibu". Biar kita sama-sama belajar sembuh. Aku sebagai ibu juga punya luka masa kecil yang kadang tanpa sadar kebawa ke caraku mendidikmu. Tapi aku nggak mau itu jadi alasan. Aku ingin rantai itu putus di aku, supaya kamu bisa tumbuh lebih bahagia.
Buat para ibu yang mungkin baca ini, kita nggak sendirian. Wajar capek, wajar emosi, tapi pelan-pelan kita bisa belajar berhenti menjadikan anak sebagai pelampiasan. Anak bukan tempat buang rasa frustrasi, mereka adalah bagian dari masa depan kita. Bahagia mereka adalah lukisan masa depan mereka sendiri, dan kita cuma dikasih kesempatan sebentar buat ikut mewarnainya.
Jadi, untuk anakku: kalau suatu saat kamu merasa luka, ingatlah bahwa di balik semua kekuranganku, cintaku padamu nggak ada habisnya. Lukamu adalah sakitku, dan aku akan terus belajar jadi ibu yang lebih baik, supaya kamu bisa tumbuh dengan hati yang tetap lembut dan bahagia.