Mengenai Altar Part 3
Terima kasih kepada Buddha Sakyamuni!
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha pengasih dan maha penolong!
Terima kasih kepada Para Buddha dan Dewa Pelindung Dharma dari seluruh penjuru!
Terima kasih kepada Master Jun Hong Lu!
Terima kasih kepada semua saudara se-dharma!
Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam postingan kami, kami memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, para Dewa dan Pelindung Dharma memaafkan, Master Jun Hong Lu memaafkan, mohon saudara-saudara dan teman-teman se-Dharma memaafkan.
Waktu pertama kali mendirikan altar Buddha di rumah, aku juga bingung harus mulai dari mana. Ternyata, kuncinya bukan mewahnya altar, tapi ketulusan hati dan cara kita menjaga kebersihan serta kehormatannya. Untuk perlengkapan altar Buddha, minimal biasanya ada: patung atau rupang Buddha/Bodhisattva, tempat dupa, cangkir air putih, vas bunga, dan tatakan untuk buah atau persembahan lainnya. Aku sendiri memilih perlengkapan yang sederhana tapi mudah dibersihkan, karena altar yang bersih itu juga bentuk rasa hormat kita. Kalau kamu baru mulai, tidak perlu memaksakan diri membeli perlengkapan mahal; gunakan yang layak dan bersih dulu, sambil pelan-pelan melengkapi. Soal persembahan altar Buddha, aku lebih fokus pada "teks persembahan hati" atau doa yang tulus. Biasanya sebelum memasang dupa, aku duduk sebentar, menenangkan pikiran, lalu dalam hati mengucapkan terima kasih kepada Buddha dan Bodhisattva, mendoakan keluarga, serta bertekad memperbaiki diri. Kalau bingung mau bilang apa, bisa mulai dengan kalimat sederhana seperti memohon bimbingan untuk menjauhi karma buruk dan menumbuhkan welas asih. Intinya jujur dari hati, bukan sekadar hafalan. Ada juga pertanyaan umum tentang boleh tidaknya memetik bunga di jalan untuk persembahan Bodhisattva. Dari pengalaman dan yang pernah aku pelajari, sebaiknya kita tidak merugikan orang lain. Kalau bunga itu milik umum atau orang lain, lebih baik membeli sendiri atau memakai bunga yang benar-benar milik kita. Persembahan yang baik bukan hanya bagus secara fisik, tapi juga tidak menimbulkan utang karma. Lalu tentang memasang dupa: banyak yang bingung apakah boleh memasang dupa besar (kayu cendana) beberapa kali sehari, atau memasang dupa setelah jam 10 malam. Aku pribadi berusaha memasang dupa pada jam yang wajar, seperti pagi dan sore, supaya tidak mengganggu energi rumah dan juga tidak mengganggu tetangga. Soal dupa malam hari, aku biasanya menghindari di atas jam 10 malam kecuali ada keadaan khusus, karena di jam-jam itu suasana sudah cenderung sunyi dan berbeda. Penempatan altar Buddha di rumah juga penting. Usahakan altar tidak menempel langsung dengan kamar tidur, terutama kamar tidur anak, dan jangan menghadap ke arah yang kurang pantas (seperti langsung menghadap kamar mandi). Di rumahku, aku pilih sudut ruang keluarga yang tenang, tidak dilalui banyak orang, supaya saat bersujud dan berdoa bisa lebih khusyuk. Kalau ruang rumah sempit, tetap bisa diatur asalkan kita menjaga kesopanan dan kebersihan area altar. Merapikan altar juga ada aturannya. Misalnya, aku menghindari membersihkan altar setelah jam 10 malam, dan kalau mau membersihkan tempat dupa, aku lakukan di siang hari dengan sikap hormat. Kalau tanpa sengaja memecahkan vas bunga atau cangkir di atas altar, jangan panik. Ambil pecahan dengan hati-hati, minta maaf secara tulus di depan altar, lalu ganti dengan yang baru jika memungkinkan. Buat teman-teman yang mungkin terbiasa dengan altar Islam di rumah dan sekarang ingin mendirikan altar Buddha, yang paling penting adalah menghormati masing-masing keyakinan dan mengatur ruang dengan bijak. Jangan lupa, sebesar apapun altar Buddha di rumah, yang dinilai justru kebersihan hati, niat baik, dan praktik Dharma kita sehari-hari. Semoga pengalaman kecilku ini bisa membantu kalian yang lagi belajar menyiapkan altar dan persembahan altar Buddha di rumah.










