Mengenai Altar Part 5
Terima kasih kepada Buddha Sakyamuni!
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha pengasih dan maha penolong!
Terima kasih kepada Para Buddha dan Dewa Pelindung Dharma dari seluruh penjuru!
Terima kasih kepada Master Jun Hong Lu!
Terima kasih kepada semua saudara se-dharma!
Apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam postingan kami, kami memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa, para Dewa dan Pelindung Dharma memaafkan, Master Jun Hong Lu memaafkan, mohon saudara-saudara dan teman-teman se-Dharma memaafkan.
Aku dulu sempat bingung banget soal perlengkapan altar Buddha di rumah: lilin boleh atau tidak, minyak apa yang dipakai untuk lampu, sampai posisi dupa yang benar. Setelah belajar pelan-pelan dari ajaran Xin Ling Fa Men, aku mulai paham bahwa setiap perlengkapan altar Buddha punya makna sendiri, bukan sekadar hiasan. Tentang lilin, di gambar dijelaskan bahwa lilin sebenarnya adalah persembahan untuk dewa atau roh halus di Alam Akhirat, sedangkan untuk Alam Surga kita dianjurkan memakai lampu minyak. Jadi di altar Buddha di rumah, aku sekarang memilih pakai lampu minyak kecil, bukan lilin. Bahasa Mandarinnya sering disebut "you deng" untuk lampu minyak. Waktu pertama kali mengganti lilin dengan lampu minyak, rasanya altar jadi lebih tenang dan khidmat. Untuk persembahan altar Buddha, biasanya aku siapkan: patung atau gambar Buddha/Bodhisattva, lampu minyak, tempat dupa, dan sesekali bunga segar. Dupa dipasang sebagai bentuk penghormatan dan untuk "menghubungkan hati" dengan Bodhisattva. Dari penjelasan di gambar, aku belajar kalau sebaiknya memakai satu jenis dupa saja, karena jenis dupa yang berbeda bisa mengundang Bodhisattva yang berbeda. Sekarang aku selalu beli satu merek dupa yang sama khusus untuk altar. Ada juga aturan kecil yang dulu sering aku langgar tanpa sadar. Misalnya, tidak boleh menyapu area altar ketika dupa dan lampu minyak sedang menyala, karena Bodhisattva sudah datang dan kita sebaiknya menjaga suasana yang hormat. Sekarang kalau mau bersih-bersih, aku tunggu dulu sampai dupa padam. Begitu juga soal dupa saat ada keluarga sedang memasak hidangan non-vegetarian: di gambar dijelaskan sebaiknya jangan memasang dupa saat itu. Jadi aku atur waktu sembahyang, biasanya sebelum atau setelah kegiatan memasak selesai. Soal lilin, aku pernah bertanya apa yang harus dilakukan saat menurunkan lilin dari altar. Di gambar disebutkan perlu membaca 3x Li Fo Da Chan Hui Wen. Ini membuat aku sadar bahwa setiap perubahan di altar sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan disertai paritta, bukan asal ambil dan pindahkan. Ada satu hal yang menurutku penting: ketika dupa persembahan masih menyala, kita tidak dianjurkan menyentuh benda-benda di altar dulu, karena diyakini Bodhisattva sudah hadir. Jadi sekarang aku biasakan untuk berdiri tenang, berdoa, dan baru setelah dupa habis, aku merapikan altar kalau perlu. Untuk yang sedang mengalami masa sangat sial atau banyak rintangan, di gambar dijelaskan bahwa selain melafal paritta dan berbuat kebajikan, membakar dupa besar setiap hari bisa membantu mengubah nasib. Aku pribadi pernah coba memasang dupa agak lebih besar saat banyak masalah muncul, sambil tekun membaca paritta dan memperbaiki diri. Lama-lama, hati terasa lebih tenang dan situasi pelan-pelan membaik. Dari semua pengalaman ini, aku merasa pengaturan perlengkapan altar Buddha itu bukan cuma soal tampilan, tapi cara kita menunjukkan rasa hormat dan memahami perbedaan makna antara lilin, lampu minyak, dan dupa. Kalau kamu juga bingung soal perlengkapan altar Buddha atau lilin dalam bahasa Mandarin dan penggunaannya, semoga sharing ini bisa jadi referensi praktis untuk menata altar di rumah dengan lebih yakin dan penuh rasa bakti.










